Menjadi Manusia Yang Bijak Haruslah Refleksi Diri Dengan Baik
PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN YANG KOKOH
_______________________________________________
oleh: Saverius Fransiskus Mote
[Cara pengambilan manfaat / kedayagunaan bagi diri sendiri atau kelompok:
1. prinsip: “nilai kebenaran terutama tertanam ke dalam jiwa melalui kesadaran dan pengulangan berkali-kali (terlebih-lebih secara meditatif) atas nilai kebenaran tersebut”…itulah cara kerja rahmat-daya-kekuatan Allah dalam mendandani dan menyempurnakan setiap manusia yang terbungkus oleh kejasmaniannya;
2.“bacalah bahan ini begitu saja, dengan mata hati dan budi terbuka, dalam keheningan, cukup konsentratif (focus), cukup kritis, secara amat tidak tergesa-gesa, tanggap terhadap gerak-gerik batin (ingatan, rasa perasaan, fantasi, imaginasi, asosiasi, kehendak, inspirasi, kreativitas, panca indera rohani) dan dengan murah hati mengikuti dorongan-tarikan positif gerak-gerik batin tersebut, dilaksanakan 1 x 2 minggu”]
I. TEKS KITAB SUCI
a). Mt. 7: 24-27……………… “Membangun kepribadian yang kokoh bagaikan membangun rumah di atas batu; membangun kepribadian yang lemah seperti membangun rumah di atas pasir"
b).Yoh 5:41,44………………“Aku (YK) tidak memerlukan hormat dari manusia…tapi mengejar hormat yang datang dari Allah yang Esa."
c).Mt.5: 3……………………“Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga "
d).Mt. 5: 48………………….“Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”
e).Lk.9:23…………………… “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku"
f).Mt.25:21………………. “(Talenta) Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam perkara yang besar"
g).Lk.12: 28………………….“Jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya”
h).Mt.7:13-14…………………”Masuklah melalui pintu yang sesak dan jalan yang sempit yang menuju ke kehidupan (kebahagiaan, kesuksesan)"
i).Lk. 5:5-6……………………”Usaha manusia yang dipersatukan dengan Allah menghasilkan buah-buah kebaikan”
II. ADHORTASI (PENYEMANGATAN):
1.Setiap manusia dianugerahi Allah kemerdekaan jiwa. Juga dianugerahi kemampuan-kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang. Hukum perkembangan diletakkan Allah dalam setiap manusia. Dan Allah memandang amat penting “sikap dan perilaku manusia terhadap hukum perkembangan-Nya tersebut”. Dalam pengadilan akhir (saat manusia menghadap hadirat Allah) Allah tidak hanya memperhitungkan hasil, tetapi juga proses menuju hasil.
2.Allah yang esa adalah Allah yang maha kasih dan Allah yang maha penyelenggara hidup-gerak seluruh ciptaan-Nya (Lk.12: 22-34). Tak ada ciptaan di bumi ini yang lepas dari kekuatan maha kuasa Allah. Sejahat-jahatnya manusia tak mungkin menghentikan cinta kasih Allah yang maha agung. “Allah memberikan matahari bagi orang jahat maupun orang baik” (Mt.5: 45). Oleh sebab itu kita, manusia, perlu sekali menemukan daya-daya ilahi Allah yang mengelola dan menyempurnakan kodrat kemanusiaan kita masing-masing.
3. Dalam keterbedaan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakat pria dan wanita, kaum wanita dianugerahi hak perkembangan-pertumbuhan yang sama dengan kaum pria. Pada prinsipnya baik pribadi wanita maupun pribadi pria sama-sama berhak untuk berkembang semaksimal mungkin, seturut keterbatasan kodrat masing-masing. Maka, baik pria aupun wanita dapat berkembang memasuki aneka profesi sebatas kenyataan-kenyataan hukum kodrat yang tercipta dalam diri masing-masing.
4. Secara dasariah Allah yang Esa (Trinitas Yang Maha Kudus) menciptakan-memelihara-mengembangkan setiap manusia, apapun atribut-atribut yang melekat padanya (agama, aliran politik, status sosial, ras, etnis, dll). Sehingga sesungguhnya sesama kita adalah saudara kita, karena sama-sama diciptakan-dipelihara-disempurnakan oleh Allah yang sama. Oleh karena itu pula harkat dan martabat pria juga sama dengan harkat dan martabat wanita di hadapan Allah dan sesama.
5.Setiap wanita dan pria dikehendaki oleh Allah untuk membangun rumah-kepribadian dirinya. Sedikit banyak rumah-kepribadian itu sangat ditentukan oleh diri sendiri. Meskipun dalam arti tertentu juga ditentukan-dipengaruhi oleh faktor-faktor diluar dirinya. Faktor-faktor dalam diri a.l: kekuatan fisik, kekuatan akal sehat, kekuatan kehendak, kekuatan fantasi, kekuatan ingatan, kekuatan asosiasi, kekuatan kreativitas, kebiasaan-kebiasaan psikologis (intellectual quotiens, emosional quotiens, spiritual quotiens). Faktor-faktor dalam diri yang terlatih baik dan benar akan mendukung lahirnya kepribadian diri yang kokoh. Memang faktor-faktor dalam diri yang luka, perlu disembuhkan melalui penyembuhan luka-luka batin atau melalui meditasi atau kontemplasi terahmati yang menyembuhkan.
6. Faktor-faktor dari luar diri dapat mendukung pembentukan kepribadian yang kokoh, misalnya: tuntutan disiplin, pembiasaan bertanggungjawab, contoh-contoh baik dari lingkungan hidup-karya, kebiasaan berdoa, kebiasaan bertemu dengan pembimbing rohani, kebiasaan pemeriksaaan batin dsm. Namun faktor-faktor dari luar juga dapat melemahkan pembentukan kepribadian yang kokoh, misalnya: kebiasaan tidak tertib, pengaruh negatif lingkungan hidup, keadaan fisik yang kurang sehat dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain.
7. Yesus Kristus menyebutkan, bahwa kepribadian yang kokoh sentausa antara lain akan terwujud kalau manusia berani “menyangkal diri”. Artinya melawan kecenderungan-kecenderungan diri yang berarah akan menyetujui godaan-godaan jahat. Ada ungkapan terkenal: tidak ada kesukaran yang tersukar selain kesukaran mengalahkan diri sendiri. Kepribadian juga akan kokoh apabila orang berani “memanggul salib”. Artinya: orang berani duka-tertekan batin dalam menghadapi aneka tantangan dan kesulitan dalam hidup dan karyanya; orang berani berdaya tahan tinggi dalam menghadapi godaan-godaan jahat; juga tekun-tabah-setia dalam memikul tanggungjawab yang ringan maupun berat.
8. Juga terkandung dalam pernyataan Yesus Kristus, bahwa kepribadian akan terbentuk kokoh apabila orang mau mengikuti Dia. Artinya: mengikuti cara Dia beriman yang sangat mendalam, baik personal maupun komunal, kepada Bapa di Sorga; mengikuti Dia dalam memahami kehendak-perintah-larangan dari Bapa-Nya; juga mengikuti Dia dalam keteguhan luar biasa berpegang teguh pada kesucian hidup, meskipun menghadapi aneka fitnah dan caci maki dari orang-orang yang iri hati dan penuh egoisme.
9. Kepribadian yang kokoh ternyata merupakan hasil dari perjuangan setia tanggungjawab dan kebaikan dalam perkara-perkara kecil (Mt.25: 21). Kebenaran itulah kiranya yang juga dialami Yesus Kristus sejak kecil sampai umur dewasa di Nazaret. “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Lk.2: 52). Demikian, keunggulan orang Katolik dalam studi keilmuan dan dalam ketekunan-ketelitian mengembangkan kekayaan-manfaat keilmuannya bagi perbaikan kesejahteraan umum sesamanya.
10. Bahan dasar kepribadian kita, baik dalam arti jasmani maupun dalam arti rohani, bersumber asal dari Allah. Allahlah sumber kekuatan untuk memelihara dan menyempurnakan bahan dasar tersebut (bdk. Lk.12: 22-34). Seharusnya memang perlu kita temukan terlebih dahulu kekokohan kepribadian macam apa yang perlu kita usahakan menurut kehendak-rencanaNya. Panggilan menjadi militer menuntut kekokohan kepribadian yang sedikit banyak lain dari panggilan untuk menjadi pastor atau biarawan-biarawati. Demikian juga kekokohan kepribadian seorang ibu rumah tangga akan sedikit berbeda dari seorang ibu yang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dst.
11. Dalam proses membentuk kepribadian yang kokoh ternyata terdapat banyak kendala yang harus diatasi. Kendala-kendala itu a.l.: kendala nilai budaya yang tertanam dalam diri sendiri yang belum tentu bersifat sejalan dengan nilai-nilai Injil Yesus Kristus (misalnya: budaya patriarkal atau budaya matriarkal dsm); juga kendala luka-luka batin yang umumnya agak sulit disembuhkan; demikian juga kendala tertanamnya egoisme-egoisme secara mengakar, dll. Secara prinsipiil kita percaya, bahwa segala usaha kita akan menghasilkan buah-buah kebaikan, apabila usaha tersebut tersatukan dengan kekuatan iman pada Tuhan (bdk. Lk.5: 5-6).
12. Untuk pembentukan kepribadian yang kokoh memang sangat diperlukan sikap kerendahan hati mendalam. Artinya: orang sangat mengakui diri penuh kelemahan, sehingga sangat mendambakan terang-kekuatan dari Allah (bdk. Mt 5:3). Aneka kelemahan dan kebiasaan buruk perlu diatasi satu demi satu secara penuh kesungguhan hati dan kebersamaan dengan Tuhan secara terus-menerus. Hal itu memang membosankan dan menjenuhkan. Namun itulah wujud nyata dari sabda Tuhan “masuklah pintu yang sesak dan jalan yang sempit”, sebab memang itulah cara yang benar menuju kehidupan (:kesuksesan, kebahagiaan, kedamai-tenteraman).
13. Banyak orang yang lebih memilih pintu yang lebar dan jalan yang luas, yang membawa manusia ke arah kebinasaan (:kesengsaraan, kesuraman hidup, keresahan dan ketidakdamaian). Umumnya lebih banyak orang di bumi ini yang lebih condong untuk: tidak jujur daripada jujur, malas daripada rajin, serampangan daripada teliti, sembrono daripada serius, tidak bertanggungjawab daripada bertanggungjawab, korupsi daripada tidak korupsi, kolusi daripada tidak kolusi, nepotisme daripada tidak nepotisme, dst. dst. Jelas, bahwa membentuk kepribadian yang kokoh menuntut perjuangan keras. Sebab de facto orang “harus melawan godaan-godaan setan yang begitu banyak”.
14. Kepribadian yang kokoh akan terbentuk melalui proses pembinaan diri untuk sebudi dan sehati dengan Tuhan Yesus (Allah). Untuk berkembang ke arah sebudi dengan Tuhan Yesus, orang bisa belajar menikmati “meditasi” atas perikope-perikope dalam Injil/Kitab Suci. Dan untuk berkembang kearah sehati dengan Tuhan Yesus, orang bisa belajar “berkontemplasi” atas perikope-perikope dalam Injil/Kitab Suci. Dengan meditasi yang terahmati. Allah menyembuhkan cara-cara berpikir yang tak sehat atau tak sejalan dengan budaya pikir Allah. Demikian pula dengan kontemplasi yang terahmati, orang disembuhkan oleh Allah dari kebiasaan-kebiasaan rasa-merasa yang buruk, yang tak sesuai dengan rasa-perasaan Allah.
15. Dalam kebiasaan suci para Santo dan Santa, mereka biasa melakukan pemeriksaan batin dua kali sehari. Mereka meneliti batin pada siang dan malam hari: macam apa kejatuhan dosanya, rahmat-rahmat macam apa saja yang diterimanya dari Allah sampai saat itu. Dan apakah perbaikan khususnya (satu kelemahan yang difokus untuk diperbaiki dalam sementara waktu) mengalami peningkatan atau penurunan? Dengan kerajinan meditasi/kontemplasi/pemeriksaan batin itulah kepribadian para Santo dan Santa menjadi dikokohkan oleh Tuhan.
16. Seberapa jauh peran ilmu psikologi dalam proses pembentukan kepribadian yang kokoh? Tentu saja ada sumbangan-sumbangan yang berharga dari ilmu psikologi,a.l.:
a. membantu menemukan bakat dan minat yang ada dalam diri sendiri;
b. membantu pembentukan mental-psikologis yang sehat dan benar melalui pengalaman-pengalaman yang menggerakkan potensi-potensi psiko-motorik.
c. Membantu pengertian dan pemahaman atas aneka kepribadian manusia dan bagaimana memperlakukan sesama dengan baik dan benar.
Ilmu-ilmu psikologi yang sudah teruji dapat dikategorikan sebagai karya Allah yang juga bermanfaat untuk pembentukan kepribadian yang kokoh.
17. Dalam Mt.5: 48 Yesus Kristus menegaskan supaya kita menjadi sempurna seperti Bapa di Sorga yang sempurna adanya. Jelas, manusia yang berdaging ini tidak mungkin membangun kesempurnaan hidup sama seperti Bapa di Sorga yang tidak berdaging. Namun mengapa ungkapan itu tetap ditulis juga oleh Matius? Itulah gaya penulisan pengarang Injil Matius yang bersifat “menyangatkan (superlatif)”. Maka arti-arti yang jelas-jelas diajarkan oleh Yesus Kristus a.l.:
a. Allah memberikan hukum pertumbuhan dalam diri manusia, baik pria maupun wanita;
b. Allah akan meminta pertanggungjawaban dari setiap manusia, bagaimana de facto mengolah hukum pertumbuhan tersebut;
c. Allah sangat memandang penting dan penuh perhatian terhadap hukum perkembangan tersebut dan tak henti-hentinya menawarkan daya-daya (rahmat-rahmat) bantuan-Nya melebihi yang diberikan-Nya kepada makhluk-makhluk lain di bawah derajat manusia (Lk. 12: 22-34).
d. Allah menghendaki supaya manusia itu selalu terus menerus berjuang untuk bertumbuh-berkembang sampai detik akhir hayat hidup jasmaniahnya.
e. Allah sangat memahami, bahwa tidak mungkin manusia mencapai kesempurnaan sama dengan diri Allah Bapa yang “Maha Kuasa” di Sorga.
f. Arah kesempurnaan manusia hendaklah selaras dengan kehendak-kehendak Allah di Sorga dan hendaknya manusia bekerjasama dengan diri Allah Bapa dalam Yesus Kristus. Oleh sebab itu mutlak perlu mengenali kehendak-kehendak Allah Bapa melalui Injil Yesus Kristus.
18.Dalam bahasa sehari-hari kekokohan kepribadian a.l. berarti:
1). Pertama-tama dan terutama kokoh dalam arti kepribadian yang bersahabat erat dengan Allah, sehingga tak satu pun godaan-godaan setan berhasil menjatuhkannya ke kedosaan.
2). Kokoh, juga dalam arti kepribadian yang terbentuk dari jalinan sinkronis (harmonis) kematangan intelektual-kematangan emosional-kematangan spiritual.
3). Kokoh, dalam arti kepribadian yang tetap mampu menguasai diri dalam keseimbangan, walaupun dirinya sedang tertimpa musibah besar atau kegembiraan yang luar biasa.
4).Kokoh, juga dalam arti berpribadi yang tidak mudah digoyah dalam masalah-masalah yang secara moral-spiritual termasuk “nilai prinsipial obyektif”.
5). Kekokohan dalam arti kepribadian yang selalu penuh semangat dalam menghadapi dan mengatasi seribu satu tantangan dan kesulitan dalam konteks tugas-tugas dan tanggungjawabnya. Kepribadian tersebut terbentuk dan dibentuk oleh latihan mencintai tantangan dan kesulitan.
6). Kepribadian yang kokoh juga ditandai oleh keterlatihan menemukan dan mengutamakan pencapaian nilai-nilai prioritas yang bertujuan untuk kepentingan kesejahteraan jasmani-rohani umum, khususnya kaum miskin dalam arti luas, yang mendominasi jumlah penduduk dunia.
[Pendek kata kepribadian yang kokoh tak mengenal: “mudah putus asa”, “mudah bingung”, “mudah patah arang”, “mudah menyerah”, “mudah menunda-nunda tugas-tanggungjawab-kewajiban”, “mudah mengeluh”, “mudah rasionalisasi negatif” dan “mudah terpengaruh oleh orang lain”.]
III. Bahan Diskusi - Sharing
1. Jelaskan pernyataan Yesus dalam Mt.7:13-14 “banyak orang yang lebih suka masuk melalui pintu yang lebar dan jalan yang luas, meskipun itu menuju ke arah kebinasaan”. Mengapa?
2. Dalam konteks kekristianian “apa saja tujuan menjadi orang yang berkepribadian kokoh dan unggul”?
3.Dalam jaman sekarang temukanlah hambatan-hambatan untuk pembentukan kepribadian yang kokoh.
4. Untuk sebudi dan sehati dengan Allah bagaimana cara-cara mencapainya?
Wakeikagoo.Net

0 komentar: