Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisic ing elit, sed do eiusm
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisic ing elit, sed do eiusm

Perempuan Suku Mee Yang Mengalami Akulturasi

Perempuan Suku Mee Yang Mengalami Akulturasi:
Sebuah Kasus Lintas Budaya Suku Irian_Papua

I.                    Pendahuluan

a.       Latar Belakang Penulisan dan Posisi Penulis.
       Penulisan ini dilakukan dengan cara bahasan beberapa literatur dan wawancara kepada subyek penelitian melalui email dan telpon.
       Penulisan ini dimaksudkan untuk melengkapi bahasan penulisan mengenai "Proses Tumbuh Kembang Perempuan Etnis Masyarakat Arso", yang dalam hal ini mengambil kasus perempuan Irian Jaya.  Dalam penulisan sebelumnya dibahas tumbuh kembang perempuan Arso, karena alasan tidak menemukan subyek yang sesuai maka penulisan ini akan menyoroti Konsep Diri perempuan Irian Jaya dari suku Mee/Mek di wilayah Paniai, Irian Jaya.
       Secara umum kehidupan dan tradisi antara masyarakat Arso dan Masyarakat Paniai tidak menunjukkan perbedaan berarti.  Karena kedua masyarakat tersebut tinggal di daerah pegunungan dengan pola kehidupan yang sama, yaitu berkebun, meramu dan berburu.  Dalam tradisi perkawinan, pembagian kerja gender, maupun mitos-mitos yang mereka anut tidaklah berbeda.  Oleh karenanya penulisan ini masih sangat relevan dengan tujuan yang diharapkan.
       Posisi penulis dalam kasus yang diteliti ini bersifat sebagai pengamat diluar permasalahan yang akan dibahas.  Penulis melihat permasalahan berdasarkan pendapat dan pandangan subyek penelitian tentang kehidupan sukunya dan perkembangan perilaku maupun sikap subyek dalam memahami sukunya dan kehidupannya sendiri.
       Tulisan ini akan menjabarkan proses pewarisan budaya seorang perempuan dari suku Mee yang tinggal di lingkungan suku Dani kemudian mengalami akulturasi budaya pluralistik di Irian Jaya.  Bahasan akan difokuskan pada masalah konsep diri perempuan suku Mee dengan menggunakan alat analisis dari sudut pandang psikologi lintas budaya terhadap proses enkulturasi, sosialisasi dan akulturasi yang mempengaruhi pembentukan konsep diri sebagai  perempuan Mee yang berpendidikan tinggi.  Berdasarkan analisa berbagai konsep seperti konsep peran jender, Konsep pewarisan budaya, konsep lintas budaya seperti proses enkulturasi, sosialisasi, dan akulkturasi dengan bahasan dilakukan dalam konteks kehidupan subyek penelitian sebagai generasi ke dua dari kedua orang tuanya yang dilahirkan tahun 1950.  Pada akhirnya penulis akan memberikan catatan akhir berdasarkan kasus tersebut tentang bagaimana pendekatan lintas budaya melihat siapa  dan bagaimana perempuan Indonesia.

b.      Latar Belakang Kehidupan Seorang Perempuan Suku Mee, di Kabupaten Paniai, Irian Jaya

       Sebelum menggambarkan latar belakang kehidupan subyek/responden, maka akan di gambarkan terlebih dahulu kehidupan masyarakat Mee/Mek berdasarkan cerita responden dan tulisan literatur/pustaka yang ditulis oleh Howay dan P. Yaam dalam "Irian Jaya Membangun Masyarakat Majemuk", Koentjaraningrat (1994).

Budaya Masyarakat Suku Mee

       Orang Mee menyebut dirinya Mee yang berarti "mahluk manusia", yang secara khusus membedakan mahluk manusia dari mahluk halus, dewa, hewan, tumbuh-tumbuhan , dll.  Orang Mee tinggal di dataran pegunungan tengah yang tinggi dan bersalju abadi di Kabupaten Paniai, dengan luas wilayah 855,64 km persegi dan terletak pada ketinggian 1,765 meter di atas permukaan laut.  Orang Mee tersebar di enam wilayah kecamatan, yaitu Paniai Timur, Paniai Barat, Tigi, Uwapa, Homeyo dan Wagete.  Perkampungan mereka di bangun mengikuti jalan atau mengelilingi Danau Paniai, Danau Tege dan Danau Tigi.

       Mata pencaharian orang Mee, bercocok tanam di ladang, memelihara babi, berburu dan menangkap ikan.  Mereka mengenal sistem pembagian kerja antara perempuan, laki-laki dan anak-anak dalam kegiatan sosial seperti berladang, berburu, mengasuh anak, dan mengatur ekonomi rumah tangga.  Dalam pekerjaan kebun, perempuan  mengumpulkan sisa kayu hasil kerja laki-laki dalam membuka lahan dan membuat parit. Selanjutnya perempuan mengolah tanah untuk ditanami makanan pokok ubi dan sayur-sayuran, merawat sampai memanen hasilnya.
      Suku Mee memiliki kehidupan organisasi sosial dan mitos-mitos yang harus ditaati dalam adat perkawinan, hak kepemilikan/waris, kehidupan rumah tangga, kepemimpinan dalam masyarakat, dan berbagai upacara adat.

      Tata cara adat perkawinan, diawali dengan penilaian orang tua atas kedewasaan dan kerajinan anak yang akan di nikahkan.  Dalam memilih jodoh dahulu ditentukan oleh orang tua dan saudara laki-laki, namun sekarang berdasarkan pilihan sendiri.  Pada waktu lamaran, keluarga laki-laki akan membayar uang pintu (owa damo damita artinya menginjak pintu rumah), dan mas kawin yang terdiri dari benda adat, kulit kerang dan uang tunai.  Mas kawin ini biasanya dibagi antara orang tua dan saudara laki-laki mempelai perempuan.  Mas kawin sebagai tanda sah perkawinan secara adat, kemudian mempelai diantar kepada pihak keluarga laki-laki dengan dibekali sedikit harta sesuai kemampuan berupa anak babi, ayam, bebek, dan kebun untuk hak pakai. Pada malam harinya mempelai perempuan akan menceritakan tentang mimpi haid pertamanya, yang memberikan gambaran makna masa depan kehidupan keluarganya kelak. Dengan pembayaran mas kawin maka perempuan kehilangan nama klen atau nama keluarganya dan ia tinggal menetap secara virilokal di keluarga suaminya, sehingga apapun yang terjadi dalam rumah tangganya ia tetap harus berada di pihak keluarga suami.
      Menurut subyek, mas kawin saat ini bukan sebuah harga mati, dimana suami dan keluarganya boleh berbuat sesuka hati kepada istrinya.  Orang tua maupun saudara laki-laki dapat mengembalikan mas kawin yang telah dibayar, jika anak atau saudara perempuannya mendapat perlakukan kasar, misalnya selalu memukul istrinya karena tidak bisa memberikan anak laki-laki, dengan demikian ia telah bebas dan dapat kembali memakai nama keluarganya.

      Keluarga masyarakat Mee adalah keluarga inti monogami.  Dalam kehidupan sehari-hari anak laki-laki dan anak perempuan  harus dipisahkan dalam lingkungan bermain maupun tidurnya.  Ayah dan anak laki-laki mempunyai kedudukan yang tinggi dalam keluarga sebagai pengambil keputusan.  Ayah adalah kepala keluarga yang tahu aturan-aturan adat dan diceritakan dari generasi ke generasi berikutnya.  Anak laki-laki menjadi pengambil keputusan apabila ayah tidak ada.  Namun demikian pengambilan keputusan dilakukan setelah musyawarah dengan anggota keluarga lainnya.  Agar bisa mengambil keputusan yang baik bagi keluarga, maka anak laki-laki harus selalu bergaul dengan kerabatnya yang laki-laki sehingga ia akan melihat bahkan mengambil bagian dalam segala sesuatu yang dilakukan oleh orang dewasa agar menjadi lelaki yang bijaksana.

       Hak milik harta warisan, hanya dimiliki oleh anak laki-laki.  Perempuan tidak mendapatkan hak milik harta warisan, ia hanya mempunyai hak pakai dan memungut hasil dari tanah/kebun  komunal, atau menempati rumah orang tua atau saudaranya.  Pengecualiannya adalah dalam keluarga tersebut sampai dengan derajad keempat tidak ada anak laki-laki maka perempuan bisa mendapatkan harta warisan sebagai hak milik.  Perempuan juga bisa mendapat hak milik jika saudara laki-lakinya berbaik hati membagi harta warisannya.
      Warisan dalam suku Mee meliputi harta warisan yang dapat dibagi secara individual yaitu kebun, rumah, ternak.  Ada juga harta warisan yang tidak dapat dibagi hanya ada hak pakai dan hak memungut hasil yaitu hak tanah ulayat/komunal, misalnya areal hutan (Buguwa), sebuah gunung milik klen (Begadimi).  Sistem pembagian warisan adalah dibagi merata kepada semua anak laki-laki oleh anak laki-laki tertua, jika ayahnya telah meninggal.  Apabila harta warisan yang dibagi tidak mencukupi maka anak laki-laki yang bekerja sebagai pegawai negeri atau ABRI tidak mendapat bagian.

       Kepemimpinan maasyarakat suku Mee, dibawah kekuasaan Tonowi.  Kewibawaan Tonowi dianggap tinggi apabila ia kaya, memiliki banyak babi dan tanah garapan, beristri lebih dari satu, pandai berbicara dan berpidato, suka menolong orang lain, memahami adat istiadat dan upacara religi untuk menjaga keselamatan.  Kedudukan sebagai Tonowi diperoleh atas upayanya sendiri.

       Peran  Perempuan suku Mee dalam keluarga dianggap baik apabila ia tidak cerewet, patuh terhadap orang tua dan suami juga menjaga nama baik keluarga dan tidak melakukan mogai (berbuat zinah).  Perempuan juga dianggap baik apabila ia dapat bekerja dengan baik di kebun, memelihara ternak babi, menyiapkan makanan bagi keluarga dan membuat noken (tas/kantong), mengasuh anak, membesarkan anak.  Bagi seorang istri, perempuan harus dapat memberikan keturunan yang banyak terutama anak laki-laki, karena anak laki-laki merupakan penerus keturunan klen.   Anak perempuan berperan dalam memperkaya ayah dan saudara laki-laki dengan cara memelihara babi sebanyak mungkin agar ayahnya bertambah kaya sehingga status sosialnya naik dari Daba bage (orang kecil) menjadi Tonowi yang memiliki kekayaan dan berpengaruh/terhormat.  Selain itu anak perempuan dapat memperkaya saudara laki-lakinya dengan mas kawin dirinya.  Jika ia seorang istri/ibu, apabila ia pandai memelihara babi maka ia dapat memilihkan istri dan membayar mas kawin anak laki-lakinya. 

       Dalam upacara adat seperti pesta Yuwo (rumah dansa) peran anak perempuan dan istri adalah mendukung dan menyiapkan segala sesuatunya, seperti makanan, darah babi, kuskus dan ayam untuk mentasbihkan rumah dansa. 
       Upacara ritual yang dilakukan oleh perempuan adalah upacara haid pertama dan upacara mengantar anak gadis pada suaminya.  Seorang gadis yang baru mendapat haid pertama biasanya diasingkan disuatu pondok yang dibangun saudara laki-lakinya, atau ia tinggal bersama teman-teman perempuan lainnya.  Selama haid perempuan tersebut tidak boleh tidur dan pada malam hari ia harus benar-benar terjaga, jangan sampai tertidur dan bermimpi buruk, dalam keadaan melek apa yang terlihat itulah yang disebut dengan mimpi selama haid.  Selesai haid maka pondok dan pakaian yang dipakai waktu haid harus dibakar dan asap harus diperhatikan kemana arahnya menurut mata angin, karena arah tersebut menandakan kelak perempuan tersebut menikah.  Selanjutnya ia diberi pakaian baru sebagai tanda telah remaja.
       Upacara mengantar anak gadis pada suaminya dilakukan setelah pemberian mas kawin oleh pihak laki-laki.  Dalam upacara tersebut ibu dari pihak perempuan menyampaikan pesan kepada suami anaknya agar tidak menyia-nyiakan anaknya.  Selanjutnya di depan ibunya, anak perempuan akan menceritakan mimpi haid pertamanya yang baik maupun buruk untuk masa depan.  Apabila anak tidak menjalani upacara haid pertama dan tidak menceritakan mimpinya, maka ayahnya dan pihak keluarga laki-laki akan menyalahkan ibunya dan mengangggap tidak becus dalam mendidik anaknya.  Dan jika terjadi sesuatu dikemudian hari terhadap keluarga suaminya, maka anak dan ibunya harus menanggung segala resiko.

Latar Belakang Subyek/Responden

       Limi (nama samaran), menuturkan kisah kehidupan dan pandangannya terhadap sukunya, ia hidup sebagai generasi ke dua yang hidup dan tinggal di lingkungan suku Dani.  Wajahnya manis dengan potongan rambut pendek dan keriting, kulit hitam dengan tinggi badan sekitar 145 cm dengan berat 43 kg..  Sikapnya ramah, lembut dan murah senyum selayaknya gadis-gadis Irian. Limi sebagai perempuan dari keluarga suku Mee yang dilahirkan 27 tahun yang lalu di Wamena, dalam lingkungan suku Dani.  Daerah kediaman orang Dani  termasuk bagian wilayah Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Paniai.  Wilayah ini seolah dipagari dinding gunung yang menjulang tinggi, disebelah utara dengan ketinggian 3.500 meter, dan di bagian selatan dengan ketinggian 4.500 - 4.750 meter. Luas lembah ini mencapai 6.000 mil persegi.  Hubungan orang di lembah Balim dengan dunia luar hanyalah dengan pesawat udara.  Orang Dani bertetangga dengan kelompok Mee di bagian timur  
       Limi anak pertama dari 8 bersaudara terdiri dari, 4 orang laki-laki dan 4 orang perempuan dari pasangan suami istri suku Mee.  Ayahnya seorang guru SD di Wamena dan ibunya tidak tamat SD.  Sebagaimana ibu-ibu dari suku di Irian lainnya, selain sebagai ibu rumah tangga, ia berkebun untuk keperluan sendiri dan membuat anyaman noken untuk dijual.  Limi pada saat ini telah menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Hukum, Universitas Cendrawasih, Jayapura, Irian dan bekerja sebagai seorang pendamping masyarakat di sebuah lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Sentani, Irian Jaya.
       Limi lahir dan menghabiskan masa kecil dan remajanya di Wamena, dalam lingkungan masyarakat suku Dani.  Limi hidup dengan bersikap dan berlaku sebagaimana masyarakat Dani, yaitu terbiasa berjalan kaki tanpa alas kaki, makan ubi, sayur, bakar batu, saat pergi ke rumah duka harus mengeluarkan air mata, dari kecil terbiasa merokok, serta minum air putih yang tidak dimasak, dll.  Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Dani dan bahasa Indonesia.  Walau ia tinggal dalam lingkungan suku Dani, dan baru sekali mengunjungi kampung orang tuanya ketika berumur 2 tahun, namun bapak ibunya selalu menceritakan dan menanamkan budaya kehidupan suku Mee. 
       Kedua orang tuanya dilahirkan sebagai suku Mee dan menjalani kehidupan ritual sebagaimana kehidupan suku mereka. Kakek nenek dari kedua orang tuanya sangat erat memegang tradisi suku dalam kehidupan sehari-hari.  Anak laki-laki dan perempuan dipisahkan dalam tidur dan permainan mereka.  Kakek dan nenek selalu menekankan sejumlah aturan dan larangan bagi anak-anaknya, seperti misalnya melarang berjalan disekitar atau melanggar kantong noken orang tua, karena roh-roh yang biasa mereka sembah akan marah dan menggerogoti apa yang mereka makan sehari-hari sehingga pertumbuhan anak tidak baik dan menyebabkan kematian.  Kakek dan nenek juga percaya bahwa orang yang meninggal pada usia muda karena terkena ilmu hitam (kego) yang dilakukan oleh orang yang tidak suka, sehingga ketika hendak memasak daging (ayam, babi, dll) selalu dilakukan sembunyi-sembunyi di tempat yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.  Mereka juga mempunyai anggapan bila terlalu menonjolkan kekayaan bisa menyebabkan terkena ilmu hitam dari orang yang iri, sehingga apabila punya kekayaan hewan peliharaan akan menitipkan pada orang lain untuk bagi hasil.  Mereka juga beranggapan jika laki-laki akan pergi ke peperangan ia tidak boleh berbicara di dapur, karena asap akan menyampaikan berita itu pada musuh, juga tidak boleh makan daging, dan melakukan hubungan seksual dengan istri karena hal itu akan melemahkan dirinya di medan pertempuaran.  Selain itu mereka juga beranggapan bahwa banyak anak banyak rejeki.

Penulis : Frans Mote
Redaksi : Wakeikagoo.Net



Read more

Pola Kepemimpinan Tradisional Suku Mee di Papua

Pola Kepemimpinan Tradisional Suku Mee di Papua
“Deskripsi Kepemimpinan Tradisional”

Oleh: Fransiskus Mote
 
I.                   Pengantar Kepemimpinan

Manusia selalu berinteraksi dengan sesama dan lingkungan. Manusia hidup dalam berkelompok baik kelompok besar maupun kelompok kecil sehingga saling mempengaruhi. Lebih lanjut, dari pola hubungan tersebut akan melahirkan konsep kepemimpinan. Kepemimpinan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mengatur dan mengurus dinamika komunitas itu sendiri. Dan kepemimpinan bisa terjadi di mana saja asalkan sikap para anggota menunjukan tercapainya tujuan bersama, artinya dalam konteks tertentu dilihat dari kelebihan dan keunggulan para anggota dalam  mendengarkan dan melakukan apa yang diperintahkan.

Kepemimpinan sama tuanya  dengan kehidupan manusia karena kepemimpinan muncul bersama-sama dengan adanya peradaban manusia yaitu sejak zaman nabi-nabi dan nenek moyang manusia yang berkumpul bersama lalu bekerja bersama untuk mempertahankan eksistensi hidupnya menentang kebuasan binatang dan alam sekitarnya. Sejak itulah terjadi kerja sama antar manusia dan ada unsur kepemimpinan. Pada saat itu, pribadi yang ditunjuk sebagai pemimpin ialah orang-orang yang paling kuat, paling cerdas dan paling berani (Kartini Kartono, 2011: 32). Dengan demikian, kepemimpinan tidak terlepas dari kehidupan manusia itu sendiri. 

Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaan dan kecerdasannya, tetapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain. Sangat diperlukan jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu dipupuk dan dikembangkan. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang.  “Dengan ringkas dapat dinyatakan, pemimpin dan kepemimpinan itu dimana pun juga dan kapan pun selalu diperlukan khususnya pada zaman modern sekarang dan dimasa-masa mendatang” (Kartini Kartono, 2011: 33).
Pola atau sistem kepemimpinan setiap suku bangsa, kelompok dan komunitas tentunya berbeda-beda. Kepemimpinan ini juga tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Papua Barat pada umumnya. Sistem kepemimpinan yang dianut oleh masyarakat Papua Barat (Sorong – Samarai) sebagaimana yang ditemukan oleh Antroplog Indonesia Koenjaningrat.  Beliau menemukan empat sistem kepemimpinan serta penganutnya sebagaimana diuraikan berikut ini: pertama, sistem kepemimpinan Pria Berwibawa atau Big Man; sistem kepemimpinan Big Man diperoleh melalui pencapaian, sumber kekuasaan terletak pada kemampuan individual, kekayaan material, kepandaian berdiplomasi atau pidato, keberanian memimpin perang, fisik tubuh yang besar, sifat bermurah hati. Suku-suku di Papua Barat yang menganut sistem kepemimpinan tradisional Big Man atau Pria Berwibawa adalah Orang Dani, Orang Asmat, Orang Mee, Orang Meibrat, Orang Muyu. (Mansoben, 1995).
Kedua, adalah sistem kepemimpinan Kerajaan; sistem kepemimpinan Kerajaaan adalah pewarisan berdasarkan keturunan dan klen. Suku-suku yang menganut sistem kepemimpinan ini adalah Raja Ampat, Semenanjung Onin, Teluk MacCluer (teluk Beraur) dan Kaimana (Mansoben, 1995: 48). Ketiga, sistem kepemimpinan Ondoafi; sistem kepemimpinan Ondoafi merupakan pewarisan kedudukan dan birokrasi tradisional. Wilayah/teritorial kekuasaan seseorang pemimpin hanya terbatas pada satu kampung dan kesatuan sosialnya terdiri dari golongan atau sub golongan etnik saja dan pusat orientasi adalah religi, terdapat di bagian Timur Papua, Nimboran, Teluk Humbolt, Tabla, Yaona, Skou, Arso, Waris. (Mansoben, 1995:201-220). Keempat, adalah sistem kepemimpinan Campuran;  sistem kepemimpinan ini berbaur dari ketiga sistem kepemimpinan diatas dan wilayah yang menganut sistem kepemimpinan ini adalah di wilayah Saireri yaitu Teluk Cendrawasih. Dengan demikian, masyarakat Papua Barat pada umumnya mengangut pola atau sistem kepemimpinan tradisional sesuai dengan tradisi masing-masing suku.

II.                Tipe dan Sistem kepemimpinan Suku Mee

Berbicara mengenai kepemimpinan sangat menarik dan dapat ditelaah dari berbagai sudut pandang berdasarkan tipe kepemimpinan yang dianut oleh suku bangsa atau komunitas tertentu. Tipe kepemimpinan tradisional yang dianut oleh suku-suku yang ada di wilayah pegunungan Tengah Papua (termasuk suku Mee) adalah sistem kepemimpinan Pria Berwibawa (Big Man). Status kepemimpinan ini tidak diperoleh dari sebuah hasil warisan tetapi merupakan sebuah hasil usaha seseorang sehingga ia akhirnya mendapat pengakuan oleh masyarakatnya atau warga sukunya (usaha pencapaian atau Achievement status).

Secara khusus berbicara mengenai orang Mee  berarti berbicara tentang  tipe kepemimpinan pria berwibawa. Bagi suku Mee di Papua, berdasarkan perkembangan dan kelebihan serta keunggulan yang dimiliki oleh seseorang itu, maka akan ada pengakuan dari masyarakat di sekitarnya dan akan dijadikan sebagai  pemimpin.
Suku Mee tidak mengenal sistem kasta maupun ondoafi. Tetapi dalam hubungan dagang atau dalam kesempatan mencari harta, harus ada orang yang dipertuankan. Yang dipertuankan itu tentu orang yang  mempunyai atau memiliki banyak mege (kulit bia/karang), serta banyak babi. Yang dipertuankan ini hampir ada di setiap kampung, maka dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, yang dipertuankan ini perlu dibuatkan kebun, dicarikan kayu bakar serta perbantukan dalam pekerjaan-pekerjaannya. Orang yang dipertuankan inilah yang akan menanggung biaya pelaksanaan pekerjaan. Setelah harta maskawin diserahkan kepada pihak perempuan, kadang-kadang sebagian harta itu akan dikembalikan kepada yang dipertuankan. Yang dipertuankan itu dinamakan tonawi (Titus Crist Pekei, 2008: 220). Tonawi ini dapat dipercaya oleh masyarakat sekitarnya, sepanjang ia tidak menyalahi norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Mee.
Pemimpin federasi dalam kehidupan politik suku Mee jarang tampak, namun akan tampil sebagai salah seorang tonawi ketika memperoleh kekuasaan karena banyak orang yang tunduk dan setia kepadanya. Pengikut tonawi menuruti perintah tidak berdasarkan paksaan, melainkan kemauan masing-masing pengikutnya. Perubahan signifikan yang terjadi dikalangan orang Mee adalah sistem kasta tidak dikenal akan tetapi diakui sebagai tonawi dengan beberapa kelebihan yang ia miliki, dan diakui oleh orang-orang lain sekitarnya (Titus Crist Pekei, 2008: 220-221)

Berikut  ini adalah beberapa hal yang membuat orang dapat dianggap sebagai “Tonawi “.  Pada masa lalu, seperti yang dikatakan ( Agus A. Alua, hal 182) bahwa: kepemilikan atas mata uang siput atau mege dapat diperoleh melalui keuletan berdagang melalui pejualan babi pada kesempatan pesta babi ( yuwo ) dan pasar babi - (dedomia ), kepandaian memutar modal dengan turut berpartisipasi dalam pembayaran mas kawin yang sifatnya bantuan yang berbunga ( sewaktu-waktu harus dikembalikan ), memiliki rumah yang besar dan terdiri dari beberapa kamar untuk para istri, memiliki kebun yang luas dan banyak, jujur, pandai berdiplomasi, kepala perang dan didengar dan disegani, sebagai hakim atau penengah ketika terjadi perselisihan, dalam berbagai macam situasi. 

Tugas tonowi tidak terbatas pada bidang politik dan hukum saja tetapi juga pada bidang ekonomi dan sosial. Tonowi harus dermawan dalam pengertian yakni menjadi sumber redistribusi atau menjadi tempat simpan-pinjam bukan memberi hadiah secara cuma-cuma. Hal ini menjadi model pengendalian sosial ( social control ) yang menyebabkan kekayaan jarang tertumpuk pada satu orang tetapi justru terbagi kepada anggota-anggota kelompoknya. Tonowi memperoleh kekuasaan politik dari pinjaman yang diberikan, serta Tonowi juga memperoleh dukungan dari para murid yang diterima hidup dilingkungan rumahnya untuk dilatih dalam hal kebijaksanaan bisnis dan diberi pinjaman untuk membayar mas kawin isterinya. Tonawi adalah orang yang memiliki banyak harta kekayaan,  (ternak babi) dan  pekerja keras dalam suatu bidang, misalnya membuat pagar, menggarap kebun,  dan lain sebagainya. Selain  itu, tonawi juga merupakan orang yang pernah mendapatkan suatu karunia yang baik  dan biasa disebut juga dengan “yagome” (orang hebat).

Masyarakat suku Mee Papua tidak memilih seorang kepala tonawi yang memimpin kelompok mereka melainkan dengan sendirinya ada dan dilihat dari proses  yang dilalui oleh seseorang  dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, siapa yang berusaha bekerja keras dan mematuhi norma sosial  (diyoo dou) diakui sebagai tonawi. Sebagai seorang tonawi menunjukan diri (Personal branding) dengan mengenakan perhiasan dalam bahasa Mee disebut (wupi, egamo, ego agiya, wawaiyo, waiyo dan kagamapa/benapa). Namun, ada juga yang tidak mengenakan perhiasan tersebut dan merendahkan diri.

Bagi yang mengikuti atau mendengar perintah dan melaksanakan pekerjaan tonawi, akan mendapatkan pembinaan sehingga pengikutnya yang membesarkan nama Tonawi . Tonawi hanya memberi perintah kepada mereka yang mau mengikuti pun melaksanakan sesuatu sesuai dengan perintahnya, namun, perintah itupun tidak terlepas dari kepentingan bersama sehingga tidak merugikan pihak lain, melainkan saling menguntungkan. Tonawi juga memiliki banyak keunggulan dan kelebihan sehingga masyarakat mengakui dan menghargai (maa egai). 

Orang yang sudah mendapatkan status tonawi  tidak dibatasi oleh waktu dalam menjalankan tugasnya, melainkan ia selalu eksis sampai seumur hidup karena menjadi tonawi bukanlah pemberian dari sesama atau melalui pemilihan seperti saat ini. Mendapatkan status tonawi melalui suatu usaha. Konsep usaha dari seorang tonawi ditransfer secara lisan kepada anaknya sehingga terkesan diturunkan secara turun-temurun (regenerasi) yang kemudian disebut dengan (Ibo epaa atau Tonawi epaa) keturunan tonawi. Hal ini terjadi bukan karena masyarakat Mee menganut sistem kasta, tetapi pengakuan atas proses yang dilalui untuk mendapatkan hasil atau status tonawi. Bahkan segala usaha yang dilakukan oleh seorang tonawi akan selalu berkembang dan membuahkan hasil yang baik, sedangkan masyarakat biasa hidupnya pas-pasan sekalipun berusaha dan berupaya sekuat tenaga. Konteks kehidupan masyarakat Mee ini terjadi ibarat seleksi alam. Berikut ini merupakan penjelasan lebih lanjut tentang tonawi.

a.      Tonawi Berdasarkan Kepemilikan Ternak Babi dan Harta (Ekina Mege/Agiyo Tonawi)

Ekina mege tonawi tahu bagaimana cara merencanakan, mengatur, memelihara dan mengembangkan babi secara teratur.  Kemudian memasarkan pada saat pesta adat yang dalam bahasa Mee disebut “Yuwo”. Kemudian ada juga cara lain yang dilakukan oleh seorang ekina tonawi agar ternaknya tetap berkembang, yakni memberikan atau membagikan bibit ternak babi kepada orang lain terutama keluarga yang tidak punya atau hidup pas-pasan (iyoo) dengan tujuan agar mereka juga bisa memiliki ternak babi.

Tonawi memberikan ternak babi kepada orang lain untuk dipiara dan hasilnya digunakan untuk kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri. Namun, ternak induk yang  diberikan itu tetap milik Tonawi, sehingga ketika memasarkan babi induk itu maka hasilnya diberikan kepada pemiliknya (tonawi). Sedangkan bibitkan yang dikembangkan dari induk tersebut tetap milik yang memelihara itu.
Tonawi yang memiliki banyak ternak babi, mengakibatkan  istrinya lebih dari satu dan harus bekerja keras untuk mencari makanan artinya bahwa, perempuan harus kerja keras dan rajin cari makanan ternak babi. 

b.      Tonawi Berdasarkan  Kerja Keras (Keitai/Ekowai Tonawi)

Masyarakat dan kerabatnya akan mengakui sebagai ekowai tonawi ketika seseorang menunjukkan imagenya dengan kerja keras dalam mengerjakan suatu bidang pekerjaan yang ditekuninya. Dan pekerjaan sebesar apapun dapat dikerjakan dalam kurung waktu  singkat dan hasilnya akan berbeda dengan orang lain atau lebih unggul ketimbang yang lainnya. Dengan kata lain, ia memang unik dari yang lainnya. 

Meskipun ada banyak orang menyamakannya tetapi hasilnya akan tetap berbeda karena akiya iye-iye (bidang masing-masing) yang tidak bisa dicampuri oleh orang lain. Dengan demikian, masyarakat mengakui bahwa ia adalah keitai/ekowai tonawi (tonawi dalam bidang kerja) sehingga para pengikutnya akan mendengarkan perintah atau pembicaraannya yang berkaitan dengan keitai/ekowai (kerja). Dengan kata lain, ia bicara berdasarkan bukti yang kongkrit atau pembicaraannya sejalan dengan tindakan yang nyata. Namun, sebaliknya masyarakat tidak akan percaya, apabila tonawi  tersebut berbicara diluar daripada bidangnya yang ia tekuni karena tidak ada bukti yang disaksikan secara langsung.

Tonawi yang ini memiliki filosofi seperti yang dikatakan oleh Yohanes Tekege bahwa “tangan adalah pabrik” yang menghasilkan segala sesuatu untuk menunjang kebutuhan mereka.

c.       Tonawi Berdasarkan Kepandaian Berdiplomasi (Mana Wegai/Duwai Tonawi)

Pada dasarnya semua orang bisa berbicara dimana saja dan kapan saja, namun esensi dari berbicara adalah mengetahui dan mengerti terhadap hal apa yang dibicarakan pada konteks tersebut, dan bisa mendatangkan sesuatu yang baik serta memecahkan persoalan. Orang yang berbicara panjang lebar tetapi tidak mengerti dan tidak menangkap inti persoalan sama saja  bohong. Oleh karena itu, yang saya maksudkan disini adalah bahwa orang yang bisa memecahkan suatu persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Memecahkan persoalan sebesar apapun bukan hanya sekali saja, melainkan berulangkali dan dalam pembicaraannya akan menunjukkan perbedaan dibandingkan dengan pembicara yang lainnya secara netral.

Tidak ada seorang tonawi yang membawahi tonawi yang lainnya sehingga semua bergerak dibidang masing-masing dan melihat persoalan yang berkaitan dengan bidang apa untuk dipecahkan (mana godooto dou). Ketika yang berbicara adalah orang yang telah mendapatkan karunia, maka pembicaraannya mudah dimengerti oleh rakyat bahkan mudah memecahkan persoalan sebesar apapun.
Pembicaraannya mudah dimengerti dan diterima oleh masyarakat dan tidak mengorbankan pihak lain atau tidak memihak kepada pihak manapun (netral).  Menawegai tonawi (tonawi yang pintar berdiplomasi) memiliki bakat untuk memecahkan persoalan.  Dengan kata lain, banyak pembicara tetapi hanya seseorang yang bisa menyelesaikan persoalan (mana umina wegado tiyaa yamake, mana yuwe mekato yewe) itulah yang disebut tonawi yang pintar berdiplomasi.

d.      Tonawi Berdasarkan Karunia (Kamuh Tetai Tonawi/Yagome)

Mendapatkan karunia tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan melalui proses dan cobaan yang sangat panjang sekitar 2-3 tahun lamanya. Dengan kata lain, untuk mendapatkan karunia harus menderita dan itulah syarat utama. Dan setelah itu ia akan mendapatkan karunia mengusir atau menyembuhkan orang sakit  (Yagomee atau tonawi). Penderitaan tersebut antara lain, menjadi orang gila, sakit parah, anak istri menjadi korban, dan ternak peliharaan mengalami kematian dan lain-lain. Jadi untuk mendapatkan karunia harus melalui penderitaan yang sangat menyedikan dan setelah melalui semua itu akan disebut kamuh tetai tonawi atau didi beu awetai tonawi (tonawi atau orang hebat). 

Sama halnya dengan mendapatkan status seorang tonawi yang memang membutuhkan pengorbanan dan perjuangan yang tidak menyalahi aturan atau norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Mee itu sendiri. Sehingga seorang tonawi berbicara atas dasar bukti dan tindakan yang nyata dan diyo dou  (mentaati norma) yang dijadikan sebagai pegangan hidup berdasarkan filosofi hidup suku Mee, yakni Dou Gai Ekowai (melihat, berpikir, dan bertindak) berdasarkan Diyo Dou (norma).

III.             Tonawi Bukan Pemberian dari Luar

Tidak mudah mendapatkan sesuatu tanpa usaha dan tindakan yang nyata. Esensinya kita harus bekerja, begitupun dengan pembicaraan harus sejalan dengan tindakan yang nyata agar didengar oleh orang lain. Begitu pula dengan mendapatkan status tonawi.

Untuk menjadi tonawi bukanlah semata-mata disebut dan diakui  sebagai tonawi, melainkan melalui pengorbanan dan proses yang sangat panjang. Akan ada pengakuan tonawi dari masyarakat dan kerabatnya ketika masyarakat mengetahui pengorbanan dan proses yang dilalui oleh seseorang. 

Ada dua cara untuk menjadi tonawi, yakni: pertama, menjadi tonawi melalui upaya dan usaha kerja kerasnya, seperti ekina mege/agiyo tonawi, ekowai tonawi, dan manaduwai tonawi (tonawi yang memiliki harta, kerja keras dan pintar diplomasi); dan yang kedua, menjadi tonawi karena karunia, seperti kamu tetai tonawi/yagome (tonawi atau orang hebat). Semua itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan tidak terlepas dari diyo dou (mematuhi norma). Dari situ ada sebuah penghargaan, kepercayaan dan diakui keunggulan akan bidangnya oleh publik karena memang dengan sendirinya ada dan tidak bisa dipaksakan untuk mencampuri urusan orang lain. Dengan kata lain, tidak bisa disamakan dengan orang lain, meskipun bisa tetapi hasilnya tetap akan berbeda karena “akiya iye-iye, aki gane-gane, akiya emoo-emoo” (bakat masing-masing).

IV.             Eksistensi  Seorang Tonawi

Menurut pandangan adat, seorang laki-laki Mee mendapatkan gelar tonawi ketika ada pengakuan dari kerabat sekitarnya karena sudah melalui segala usaha dan perjuangan yang panjang dan dengan segala upaya dan usaha untuk mencapai status tonawi dengan usaha-usaha kongkrit serta memiliki nilai dermawan terhadap sesamanya, bisa menyelesaikan masalah yang menimpah warganya, dst. (Titus Crist Pekei, 2008:284). Tonawi harus melalui kucuran keringat dan kerja keras serta pengorbanan, baik tenaga dan waktu sehingga mendapatkan pengakuan dari masyarakat setempat. Bukan semata-mata mendapat pengakuan tonawi karena mempunyai harta benda seperti saat ini, tetapi ada pengakuan dari masyarakat karena dilihat dari proses yang dilalui oleh seseorang.

Pandangan masyarakat suku Mee kepada seorang tonawi adalah proses, bukan hasil. Hasil tidak menjamin untuk menjadi seorang tonawi karena masyarakat tidak melihat dan menyaksikan serta menunjukkan proses untuk mendapatkan hasil tersebut. Dengan melihat proses tersebut, masyarakat sangat menghargai dan mengakui bahwa ia adalah tonawi berdasarkan pengalaman dan telah diketahui oleh masyarakat baik kelemahan maupun kelebihan yang dimilikinya. Dengan kata lain, masyarakat sangat mengenal dan mengetahui proses untuk menjadi tonawi. Hal ini bertentangan dengan realitas saat ini, banyak tonawi bermunculan ditengah masyarakat dengan menunjukkan segala macam keunggulan serta harta benda yang dimilikinya dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat, tetapi mereka tidak menunujukkan proses yang telah dilaluinya sehingga kurang ada pengakuan dari masyarakat karena masyarakat sangat menghargai proses, bukan hasil.

Proses menunjukkan segala usaha yang dilakukan oleh setiap orang untuk mendapat pengakuan tonawi, karena tonawi yang menunjukkan hasil belum tentu melalui usaha dan upayanya sendiri (haram/halal) dan masyarakat tidak mengetahui dan tidak mengenal siapa dia yang sebenarnya karena muncul begitu saja sehingga memaksakan dan mengakui dirinya sendiri tonawi tanpa ada pengakuan dari masyarakat.

Mengakui secara subyektif, bukan hanya pembicaraan semata, melainkan disertai dengan bukti yang kongkrit. Dan sebaliknya tidak menutup kemungkinan akan mendapat pengakuan secara obyektif karena memang ada bukti (proses) yang dilihat secara langsung oleh masyarakat.  Apa yang dibicarakan harus sesuai dengan tindakan nyata dan disertai dengan bukti. Dengan kata lain berbicara sesuai dengan apa yang dilakukan dan yang pernah dilakukan atau dialami. Jangan  berbicara sebaliknya supaya pembicaraan diterima oleh publik. Ketika memberikan kritikan terhadap suatu kegiatan yang dilakukan oleh orang lain, harus disertai juga dengan solusinya agar tidak terkesan lempar batu sembunyi tangan. Kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan dan pembicaraan yang telah diutarakan sehingga merasa diri bisa atau mengakui secara subyektif dan juga tentunya akan ada pengakuan secara obyektif. Cara pandang nilai individualitas yang kooperatif ini akan nampak pada pribadi orang Mee dalam beberapa bentuk atau wujud atas pedoman hidup yang yang dipahami secara subyektif dan obyektif. 

Secara adat budaya Mee sangat jelas bahwa, merasa dirilah yang lebih hebat apabila menyelesaikan masalah besar, memiliki bakat pandai bicara dan pandai melihat soal, orang yang membantu mege/uang untuk menyelesaikan soal, mengerjakan suatu pekerjaan besar, memiliki nilai dermawan terhadap orang-orang yang membutuhkan, memiliki status sebagai tonawi, memiliki istri lebih dari satu, dan lain-lain. Hal ini berpikir secara subjektif, namun tidak menutup kemungkinan secara obyektif pun  akan mendapat pengakuan akito iboo/akito maa. Dengan sebutan kata-kata bahasa mee, manayawegaya mee to ibo, mege yagidiya mee to ibo, dst. (Titus Crist Pekei, 2008: 303). 

V.                Realitas Tatanan Hidup Masyarakat Mee

Tipe kepemimpinan pria berwibawa (big man) atau tonawi yang sangat menghargai proses bukan hasil. Dewasa ini sudah tidak relevant  karena semakin terdesak oleh sistem di negara Indonesia yang sangat mengikat. Seorang pemimpin harus dipilih oleh rakyat berdasarkan sistem yang diterapkan di negara ini, berdasarkan  gelar dan pengalaman karier yang kemudian menghasilkan pemimpin yang tidak bermoral  sehingga berakibat pada hilangnya tipe kepemimpinan pria berwibawa. Disamping itu, tradisi yang ada dianggap sebagai sesuatu yang tidak memiliki arti atau makna dan digantikan dengan budaya baru termasuk tipe kepemimpinan tradisional itu sendiri. 

Tonawi pada saat ini rupanya mengalami banyak perubahan walaupun berjalan dengan lambat, baik dalam hal tugas maupun fungsinya dengan perubahan yang dapat dilihat seperti: memberikan bantuan berupa uang dalam pembayaran maskawin dan status sosial formal atau jabatan dalam pemerintahan bukan ukuran sebagai Tonawi melainkan dipandang sebagai orang besar atau dalam bahasa Mee disebut “Mee ibo”. Saat ini tidak ada penghargaan dan pengakuan sehingga merasa semuanya bisa.

Seorang pemimpin ditunjukkan dan dipilih oleh masyarakat, hanya karena gelar dan pengalamannya, tanpa mengenal dan mengetahui kapasitas yang dimilikinya. Konteks ini sangat terbalik atau bertentangan karena dikatakan tonawi hanya karena ukuran kedudukan atau memiliki banyak uang haram/halal. Dewasa ini banyak orang terutama para politisi pintar berbicara dan mengkritik tetapi tidak sejalan dengan tindakan sehingga sulit mempercayai bahkan masyarakat bosan mendengarkannya karena realitas konteks sosial  dewasa ini yang terjadi adalah ibarat pencuri yang satu menegur pencuri yang lainnya.

Pemerintah negara Indonesia menganggap masyarakat Papua pada umumnya tidak mempunyai budaya, bahkan budaya yang ada merupakan suatu ancaman atas bahaya hilangnya kendali atau kontrol negara ini. Seperti yang dikatakan oleh Wanaha, “para pembaharu dan perancang pembangunan menganggap masyarakat lokal “tidak memiliki budaya” sehingga patut “diberikan budaya baru” untuk menggantikan budaya tradisional mereka yang dianggap primitif dan patut diganti dengan budaya modern” (Adrianto 2001: 58). 

Padahal tradisi yang dimiliki setiap daerah merupakan kekayaan warisan budaya leluhur yang perlu dilestarikan secara regenerasi. Menurut Tim Sintesis Kebijakan  mengatakan keyakinan tradisional mengandung sejumlah besar data empiris yang berhubungan dengan fenomena, proses dan sejarah perubahan lingkungan sehingga membawa implikasi bahwa sistem pengetahuan tradisional dapat memberikan gambaran informasi yang berguna bagi perencanaan dan proses pembangunan(www.Wikapedia.com). 

Keyakinan tradisional dipandang sebagai kearifan budaya lokal (indigenous knowledge), dan merupakan sumber informasi empiris dan pengetahuan penting yang dapat ditingkatkan untuk melengkapi dan memperkaya keseluruhan pemahaman ilmiah. Kearifan budaya atau masyarakat merupakan kumpulan pengetahuan  dan cara berpikir yang berakar dalam kebudayaan suatu etnis yang merupakan hasil pengamatan dalam kurun waktu yang panjang. Kearifan tersebut banyak berisikan gambaran tentang anggapan masyarakat yang bersangkutan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kualitas lingkungan manusia, serta hubungan-hubungan manusia dan lingkungan alamannya.

Penulis : Frans Mote
Redaksi : Wakeikagoo.Net



Read more

Injil masuk di tanah papua setiap 05 Februari memeriahkan ibadah


HARI BESAR MUSEUM 5 FEBRUARI 2016
HARI BERSEJARAH INJIL MASUK DI TANAH PAPUA

Puji Dan Syukur Kami Memuliakan Namamu Tuhan,
    Pada Tanggal 05 Februari Adalah Hari Bersejarah Injil Masuk Di Tanah Papua pada tahun 1961 Museum Manokwari Atau Hari Ulang Tahun Injil Masuk Di Tanah Papua Yang Mana Bertempatnya
Di Pulau Mansinam Manokwari Papua Barat Disitu Para Umat Kristen Merayakan
Ibadah Besar-Besaran Dimana-Mana Dan Lebih Khususnya Di Tempat Bersejarah
Juga Disebut Pulau Mansinam,Pulau Mansinam Ia Bertempat Di Papua Barat
Yang Terletak Di Selah Ibu Kota Manokwari .

    Pada Hari Ini Juga Di Papua Maupun Papua Barat Sedang  Merayakan Hari Ulang Tahun Injil Masuk
Di Tanah Papua,
Bagi Umat Kristen Di Papua Maupun Papua Barat Merayakan Ibadah Bersama Di Gereja-Gereja, Ditempat Umum, Maupun Ditempat Bersejarahnya Dipulau Mansinam .

Pada Saat Ini Pula Banyaknya Pemimpin Gereja-Gereja,Maupun Pemimpin Dalam Pemerintahan
Papua Dan Papua Barat  Megunjungi Tempat Bersejarahnya Di Pulau Mansinamsekaligus Merayakan Ibadah Bersama Ditempat Bersejarahnya Di Pulau Mansinam. 

    Pada Hari Ini Juga Para Umat Kristen Yang Berdomisili Di Kota Jayapura Pagi Sudah Mulai Jalan Santai Dan Siang Harinya Memeriahkan Ibadah Bersamaan Di Taman Imbi Kota Jayapura Sekaligus Menyambut Hari Ulang Tahun Kota Jayapura Abad Ke-106 Yang Menyatu Pula Pada Tanggal 07 Maret 2016 Mendatang .

Lagi Pula Yang Berada Jauh Dari Kota Jayapura Rayakan Ibadah Di Setiap Gereja Masing-Masing
Kabupaten (KEEROM) Tetangga Dari Kota Jayapura,pula Kabupaten ( JAYAPURA)-Sentani ,
Seperti Kedua Kabupaten Ini Sedang Merayakan Ibadah Khusus Didaerahnya Sendiri
Pula Di Daerah Lainnya Pun Tentu Saja Sedang Ikut Serta Memeriahkan Hari  HUT Injil Masuk
Di Tanah Papua Pada Hari Ini 05 Februari 2016.

Semoga dalam perayaan ini membuat umat Kristen menyenangkan selalu
menuju perubahan dalam kehidupan setiap diri kita seseorang.

Jayapura,05 Februari 2016
Penulis : Fransiskus Mote



Read more

Deiyai Kritis Bertambah 9 Orang Tewas Akibat Miras

Korban Miras yang Kritis Bertambah Menjadi 9 Orang
 
Yance Mote yang juga anak asli Deiyai saat melaporkan 9 orang yang sedang rawat di Rumah masing – masing ke Pemerintah Daerah dan pihak Kepolisian untuk ditelusuri, (16/07) di Wahete Deiyai.
D e i y a i  - Korban minuman keras (Miras) di Kabupaten Deiyai,  terus bertambah, jika sebelumnya sudah dilaporkan 8 orang tewas akibat pesta Miras dan  4 orang lainnya kritis, maka data terkini menyebutkan korban yang kritis bertambah 5 sehingga totalnya menjadi 9 orang kritis.  Ke-9 orang ini kondisi mereka masih dalam perawatan di rumah mereka masing – masing.  Kondisi mereka masih dalam  kritis dan masih  dalam keadaan ‘koma’ sehingga masih  sangat  mengkawartirkan.  Hal itu diungkapkan  Kepala Distrik Tigi Simon Mote,S.STP kemarin. Dikatakan jika sebelumnya dikabarkan 4 orang masih dalam perawatan, tetapi ternyata dilaporkan pihak keluarga bahwa korban miras pada tanggal 12 Juli lalu sudah bertambah hingga 9 orang.  4 orang yang pertama masing – masing  Damianus mote (31), Nelson Mote (28), Edo Dogopia (29), Eligius Mote (32). Sementara   5orang  tambahan lainnya antara lain Matias Adii (34), Oce Dogopi (33), Nius Dogopia (32), Finsen Pigome (35), Madaibunamoye (37).  Ke-9 orang yang sedang  kristis ini  mereka minum malam yang sama yaitu  tanggal 12 juli.  Hanya saja mereka minum  di tempat yang berbeda dan dikabarkan minum di 4 tempat. Masing – masing di pertigaan Tigidouge, timipotu, ujung lapangan lama, dan ujung lapangan baru.  Meski  mereka minum pada  tempat yang terpisah tetapi menurut saksi  korban Domin Mote bahwa minuman dibeli di sebuah PT  yang sedang berkerjak  di Waghete. Dan minuman yang mereka minum adalah minuman jenis alkohol yang biasa simpan di  rumah sakit. Menurut Domin, salah seorang korban yang hingga saat ini kondisi tubuh kritis itu menyampaikan,  “sejak kami minum pikiran sudah tidak sadar selain itu mata kita  tidak bisa melihat,”katanya.  Dan hingga berita ini diturunkan mata dan pikiran mereka belum normal. Sehingga kondisi mereka harus ditangani  secara serius oleh pihak keluarga untuk perawatan.  Menurut Domin, “ kami   sering minum  minuman alkoho yang biasa simpan di rumah sakit, tetapi kali ini tidak samadengan alkohol yang sering kami minum. Sering adik – adik juga minum 4 malam sampai satu minggu tetapi itupun dalam rentang waktu satu atau dua hari  bisa sadarkembali. Tetapi kali ini alkohol yang kami beli ini minumannya sangat lain dari yang biasa minum.  Karena katika kami minum tidak sadar langsung  tabanting di rumah  pikiran hilang dan matapun ikut buta,”katanya.  Dikatakan teman – teman lain yang pergi ke rumah sakit mereka sudah menghembuskan nyawa tetapi kami yang dirawat di rumah hingga saat ini masih ada nafas.  Karena di rumah kami perawatan secara tradisional.oleh karena itu walaupun ini sebuah perbuatan yang sengaja kami lakukan tetapi kami menyampaikan ucapan terimakasih dari hati yang dalam karena Pemerintah bisa memberikan bantuan uang tunai unuk dapatdirawat kesehatan kami,”katanya sambil curiga terhadap jenis miras yang dikonsumsinya.  “Kami menduga miuman ini ada campuran kimia karena kami biasa minum alkohol tetapi tidak pernah aada begini dan kali inilah yang  mendapat musibah besar – besaran,” jurnya.

(Frans Mote/Wakeikagoo.Net/01 )



Read more

Budaya Harus Di Lestarikan

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN SUKU MEE

Budaya memang harus di lestarikan namun untuk melestarikanya kita membutuhkan suatu komitmen dan rasa memiliki dalam diri seseorang individu. Budaya pada dekade akhir-akhir ini merupakan suatu wacana memang jarang di perbincangkan oleh banyak orang mengapa karena mereka mengangap bahwa itu merupakan hal klasik dan merupakan suatu momok memalukan untuk diri mereka sendiri. 

Mengapa mereka tidak mau meleatarikan budaya mereka ? beberapa alasan yang mendasari mereka adalah:
Manusia adalah menjadikan budaya sebagai suatu momok yang memalukan.
Budaya bagi mereka tidak akan memberikan keuntungan dalam hidup mereka.
Budaya bukan bagian dari hidup mereka dalam aarti bahwa budaya bukanlah waktu buat merekan dalam konteks bahwa zaman modern.
Budaya hanya banyak berbicara masalah orang-orang kampung saja.
Budaya bukanlah milik mereka namun itu hanya milik orang kampung dll.
karena budaya di miliki oleh setiap manusia dan pastinya berbeda. Budaya mee adalah salah satu adopsi dari beberapa budaya dan tradisi yang terdapat di pegunungan tengah papua masyarakat mee. Tujuan dari Suku mee sendiri terbentuk dan ada di dunia adalah untuk menjaga dan melestarikan budaya ini bukan menjadi pengikut budaya lain. Suatu tradisi akan muncul ketika seseorang mendapat masalah atau problem dan bagaimana dia mengahadapi dan memecahkan masalah tersebut. Maka cara orang itu menyelesaikan masalah itu yang akan menjadi suatu tradisi dalam suku tersebut. Maka jasanya itu akan dijadikan sebuah symbol dengan membentuk sebuah ritual contohnya pesta yuwo (pesta emas) dengan pencipta pesta ini atau seorang peternak babi dari kampung uwamani.

Siapa suku mee itu ?
Siapa suku Mee itu? Suku Mee adalah salah satu suku dari 312 suku yang ada di Papua. Suku Mee mendiami di wilayah Pegunungan Tengah Papua Bagian Barat. Ciri khas wilayah suku Mee adalah di sekitar danau Paniai, danau Tage, Danau Tigi, Lembah Kamu (sekarang Dogiyai) dan pegunungan Mapiha/ Mapisa. Namun, kini secara administrasi pemerintahan suku Mee berada di sepuluh distrik dari Kabupaten Paniai dan empat Distrik dari Kabupaten Nabire. 

Arsitektur tradisional adalah wujud suatu kebudayaan yang bertumbuh dan berkembang bersama dengan pertumbahan dan perkembangan suatu suku atau bangsa. Dalam arsitektur tradisional Suku Mee Papua terkandung secara terpadu wujud kebudayaan orang Mee seperti ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturann, pendangan hidup dan lain sebagainya. 
Arsitektur tradisional adalah wujud karya nyata leluhur. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah karya leluhur itu dapat di lestarikan atau dimusnahkan, karena mengangap “kuno, kampungan, ketinggalan, dan tradisional?”. Arsitektur tradisional merupakan suatu wujud kebudayaan yang bertumbuh dan berkembang bersama dengan pertumbahan dan perkembangan suatu suku atau bangsa mee itu sendiri. Dan merupakan wujud unsur kebudayaan yang bisa diraba/ dilihat.
Dalam arsitektur tradisional suku Mee Papua terkandung nilai-nilai budaya yang diperlihatkan melalui karya arsitektur tradisional. Arsitektur tradisional yang dapat kita lihat saat ini adalah hasil kesimpulan akhir atas pengujian alami yang di lakukan oleh leluhur orang Mee. Selain itu, yamewa merupakan kesimpulan dari apa yang dipikirkan oleh oleh Mee, dan “diwujudkan” dibangun sebagai tanggapan terhadap sekumpulan kondisi yang kadang-kadang hanya bersifat fungsional semata atau merupakan refleksi sosial, ekonomi, politik, perilaku atau tujuan-tujuan simbolis.

Arsitektur tradisional suku Mee Papua
berikut ini adalah salah satu dari berbagai macam suku di Papua yang memilki nilai-nilai, bentuk dan ukuran, serta ungkapan jiwa melalui arsitektur yang sangat berbeda. Tulisan berikut ini adalah salah satu suku mee yang berhasil dihimpun melalui suatu penelitian “survei” pada beberapa waktu laktu lalu. Dalam penelitian “survey” yang berjudul “Studi Tipologi dan Kearifan Arsitektur Tradisional Suku Mee Papua” itu berhasil dikumpulkan data dan fakta di lokasi penelitian yang dimaksud. Pada akhirnya menemukan beberapa tipe arsitektur tradisional yang dimiliki oleh suku Mee Paniai Papua yang di bahas berikut ini.
Tulisan berikut ini merupakan gambaran umum daripada hasil penelitian itu, yang di bahas dari sudut pandang arsitekturnya saja. Untuk, itu pembahasan yang lebih mendalam lengkap dengan kajian filosofi, antropologi budaya, sosial, dan lain sebagainya kita akan bahas di waktu dan lain tempat waktu-waktu yang akan datang. 

1. Tipologi arsitektur rumah tradisional 
Ada 7 (tujuh) Tipe arsitektur rumah tradisional diantaranya adalah (1) Yame Owa Secara harafia Yame artinya laki-laki Owa artinya rumah. Yame Owa artinya (Rumah tinggal laki-laki). Rumah ini dibangun untuk tempat tinggal laki-laki dalam suatu kampung. Semua bangunan (Yame Owa) yang di bangun dengan pertimbangan-pertimbangan khusus. 

Fungsi rumah Yame Owa bukan hanya merupakan suatu tempat tinggal laki-laki. Tetapi dalam rumah ini terjadi berbagai macam aktivitas yang perlu dilakukan oleh laki-laki secara turun-temurun. Selain sebagai tempat tinggal laki-laki, Yame owa adalah pusat komunikasi dan informasi aktual, tempat menyelesaikan persoalan (perang, maskawin), tempat menyimpang alat-alat perang (panah) pusat pembuatan alat perkebunan dan alat kesenian. Dan tempat mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan nasehat bagi semua laki-laki sejak usia 4/5 tahun.
Tidak ada ukuran standar yang diturunkan oleh nenek moyang. Tetapi dibangun dengan perkiraan atas kebutuhan akan ruang dan penghuni. Cara menentukan ukuran bangunan adalah dengan mengukur dengan tangan (jari-jari) atau kaki. Cara lain adalah memperkirakan dengan ukuran tinggi manusia dengan tinggi bangunan. Ukuran bangunan ini, yang telah dibangun adalah Panjang ±350cm. Lebar ±300cm. Tinggi lantai ±60cm. Dinding±150-200cm. Kemiringan Atap ±150-300. Ketinggian atap ±100-130cm. 
Bahan bangunan yang dipakai pada Yame Owa adalah untuk penutup atap menggunakan kulit kayu. Panjang pohon ini diperkirakan sekitar ±30.000cm-50.000cm. Diameter pohon ini sekitar 30 – 70 centi meter. Ketebalan kulit kayu ini adalah 0,3 cm. Panjang ukuran yang sering dipakai untuk penutup atap adalah ± 60 - 200 cm. Panjang ini bukan standar yang dipakai, namun ditentukan serat pohan itu sendiri. 
Jenis bahan yang di pakai untuk struktur bangunan adalah berupa tiang-tiang pancang. Pada dinding bangunan mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan pertama dinding luar mengunakan tiang-tiang, lapisan kedua kulit kayu dan lapisan ketiga menggunakan papan cincang. Bahan yang dipakai untuk lantai terdiri dari tiang pondasi panggung, balok induk (mutaidaa), balok anak (yokaa mutaida), deretan kayu buah yang berukuran kecil yang di ikat dengan balok anak. (katage). Selanjutnya adalah lapisan paling atas yaitu kulit pohon kelapa hutan. (tibaa).

1. Yagamo Owa
, secara harafia kata Yagamo artinya perempuan Owa artinya rumah, Yagamo Owa artinya (Rumah tinggal perempuan). Fungsi rumah Yagamo Owa bukan hanya merupakan suatu tempat tinggal bagi perempuan, tetapi dalam rumah ini terjadi berbagai macam aktivitas yang dilakukan oleh perempuan secara turun-temurun. Selain sebagai tempat tinggal perempuan, fungsi lain dari Yagamo Owa adalah pusat komunikasi dan informasi aktual, serta tempat proses belajar bagi anak-anak perempuan. Tempat menyimpang alat-alat perkebunan (yadokopa), pusat pembuatan alat penangkap ikan. 

Ukuran bangunan Yagamo Owa, adalah panjang 350cm. Lebar 300cm. Tinggi lantai ±60cm. Dinding ±150- 200 cm. Kemiringan atap ±150-300. Ketinggian atap ±100-130cm. 
Bahan bangunan yang dipakai pada Yagamo Owa, untuk penutup atap menggunakan daun pandang dan alang-alang serta beberapa jenis bahan penutup atap lainnya. Penggunaan jenis bahan penutup atap ini disesuaikan dengan ketersediaan bahan di sekitarnya. Pada umunya, bahan penutup atap Yagamo Owa adalah yage dan widime. Kedua jenis bahan ini mampu bertahan sampai berpuluhan tahun. Secara struktural bangunan, Yagamo Owa hampir sama dengan Yame Owa. Namun, yang membedakan adalah pada ornamen-ornamen san bahan yang digunakan.

2. Tii-Daa Bega Owa (Rumah Honai)
secara harafiah tii-da bega owa artinya sebuah bangunan yang membentuk gunung yang mempunyai ujung yang tajam. Fungsi bangunan ini adalah dua yaitu difungsikan untuk tempat tinggal laki-laki dan tempat perempuan. Selain itu fungsi lain adalah tempat menyimpan barang-barang berharga dari laki-laki ataupun perempuan. Lokasi bangunan ini berada di kampung-kampung, namun jarang di bangun dengan alasan bahwa rumah honai adalah rumah adat suku Dani (Wamena). Tetapi ada perbedaan yang dapat dilihat adalah ketinggian bangunan. Dimana bangunan rumah honai suku mee lebih tinggi dari pada dani (wamena). Bahan yang digunakan untuk memdirikan banguan ini adalah sama dengan bangunan lain yang ada di suku mee. Tetapi pada bagian penutup atap menggunan alang alang. Selain itu pada rangka atap banyak menggunakan kayu buah. Pada setiap dinding hanya mengunakan satu lapisan dinding. Sehingga pada malam hari terjadi kedinginan. 

Ukuran bangunan ini adalah tinggi lantai 60cm, tinggi dinding 150-200cm, tinggi atap ± 100cm, lebar ± 250-300cm, panjang ± 250- ±300m. Bentuk bangunan ini sama dengan lingkaran dengan besar diameter ±250-300cm. 

3. Yuwo Owa
secara harafiah dapat diartikan bahwa Yuwo artinya pesta Owa artinya rumah, sehingga rumah ini sering disebut rumah pesta adat suku Mee. Bila dipandang dari segi aktivitas dalam rumah ini, memiliki banyak “nama”. Aktivitas yang dilakukan pada saat puncak pelaksanaan pesta adat, sebelum aataupun sesudah sangat berfariasi. 

Fungsi bangunan ini adalah pertama, tempat melakukan jual-beli dengan cara balter dan uang tradisional (kulit kerang). Kedua, tempat mencari jodoh, saat melakukan pesta adat laki-laki dan perempuan saling tukar gelang atau kalung sebagai tanda ungkapan cinta. Ketiga, tempat hiburan malam. Satu minggu satu kali mereka tentuykan sebagai malam hiburan, untuk mengekspresikan seni tari maupun seni suara dalam rumah ini. Untul mendirikan rumah ini perlu pertingan secara matang. Bangunan ini adalah bangunan yang paling besar yang dibangnun oleh suku Mee. 
Ukuran bangunan ini adalah tinggi lantai ±40cm, tinggi dinding ±200cm, tinggi atap 150cm, lebar bangunan 1.300cm, panjang bangunan ± 2.100cm.
Bahan yang digunakan untuk mendirikan bangunan ini adalah sama dengan bahan bangunan lainya. Tetapi pada bagian penutup atap menggunakan daun pandang. Selain itu pada rangka atap banyak menggunakan tiang-tiang. Pada setiap dinding hanya mengunakan satu lapisan dinding (papan cincang). Sehingga pada malam hari terjadi kedinginan. Bentuk banguan ini sama dengan lain yaitu persegi empat. 

4. Daba Owa (Rumah Pondok)
secara harafia kata Daba artinya Daba kecil Owa artinya rumah, Daba Owa artinya (Rumah pomdok kecil). Rumah pondok di bangun di kebun hutan. 

Fungsi rumah Daba Owa bukan hanya merupakan suatu tempat istirahat pada siang hari, tetapi dalam rumah ini terdapat banyak fungsi yang meliputi pertama, tempat masak-masak hasil kebun. Kedua, tempat menyimpan kampak/ parang, alat-alat perkebunan, dan alat-alat perburuan. Ketiga, tempat berlindung dari hujan dan panas sinar matahari. Keempat, tempat menjaga binatang liar agar tidak mencungkil tanaman. 
Ukuran bangunan Daba Owa, adalah panjang ±250cm. Lebar ±200cm. Tinggi dinding ±150-200cm. Kemiringan atap ± 150-300. Ketinggian atap ± 100-130cm. 
Bahan bangunan yang dipakai pada Daba Owa, untuk penutup atap menggunakan daun pandang,alang-alang dan kulit kayu. Penggunaan jenis bahan penutup atap ini disesuaikan dengan ketersediaan bahan di sekitarnya. Secara struktural bangunan, Daba Owa tidak sebanyak lapisan seperti Yame Owa dan Yagamo Owa. Struktur dinding Daba Owa hanya satu lapisan. Deretan tiang-tiang yang membentuk dingding ini, juga berfungsi sebagai struktur utama bangunan ini.

5. Ekina Owa (Kandang Babi)
Babi merupkan jenis binatang piaraan yang sangat berharga dalam kehidupan suku Mee. Sehingga untuk menjaga agar babi itu tetap hidup dalam kandang yang aman dan nyaman maka dibangun sebuah rumah (kandang) sendiri. Bagi orang Mee babi merupakan salah satu penentu status sosial dalam kehidupan masyarakat, yang sering disebut tonawi. Seseorang bisa dikatakan tonawi karena dia memiliki kekayaan (babi banyak) dan mempunyai istri yang banyak serta mempunyai atau mengetahui hal-hal mistik. 

Fungsi rumah ini adalah tempat tinggal/ kandang babi. Menurut cerita mitos, manusia (orang mee), hidup bersama dengan ekina dalam satu rumah. Sekarang lokasi rumah ini berada di pingir atau di dekat rumah laki-laki atau perempuan. Jarak antara rumah tinggal dengan ekina owa di batasi oleh pagar (wee eda). Ukuran bangunan ini adalah sekitar 1-2 meter, ukuran ini sangat berfariasi. Dan di tentukan oleh jumlah babi yang di milikinya. 
Bentuk bangunan ini sama dengan bentuk-bentuk bangunan lain, yaitu persegi empat. Pada atap bangunan menggunan bentuk atap pelana, tetapi hanya sebagian. 
Bahan-bahan yang di pakai untuk membangun rumah ini meliputi untuk struktur utama dan pendukung adalah kayu. Bahan penutup atap adalah kulit kayu dan alang-alang. Untuk pengikat antara struktur utama, pendukung maupun penutup adalah rotan dan beberapa jenis tali.

6. Bedo Owa (Kandang Ayam).
Orang Mee sampai saat ini meyakini bahwa ayam merupakang binatang piarahan pendantang, karana belum terdapat di daerah Paniai. Namun demikian, pada saat ini yaitu sekitar tahun 1970-an ayam dipelihara sebagai salah pemberi protein bagi tubuh manusia. Ayam hadir di daerah atas bantuan pemerintah dan di bawah dari luar daerah ini. 

Sesuai dengan nama rumah ini, fungsinya adalah kandang ayam. Dalam rumah ini orang Mee memelihara ayam. Ayam-ayam akan tinggal dalam rumah ini hanya pada malam hari. Karena pada siang hari ayam-ayam tersebut berkliharaan di pinggir rumah atau kebun dekat ruamh tinggal. Sistem pemeliaraan ini memberikan kesempatan pada burung-burung pemakan daging misalnya elang untuk membunuh anak ayam. 
Saat ini orang Mee mengetahui dan membedahkan bagaimana mendirikan sebuah rumah untuk kandang ayam ataupun bebek, atau jenis binatang piaraan lainya. Akan tetapi sampai saat ini belum mengenal cara dan sistem pemeliharaan yang baik dan benar. 
Bentuk bangunan ini sama dengan bentuk-bentuk bangunan lain, yaitu persegi empat. Pada atap bangunan menggunan bentuk atap pelana, tetapi hanya sebagian. Ukuran kandang ayam ini, memiliki panjang ±200cm, lebar ±200cm. 
Bahan-bahan yang di pakai untuk membangun rumah ini meliputi untuk struktur utama dan pendukung adalah kayu. Bahan penutup atap adalah kulit kayu dan alang-alang. Untuk pengikat antara struktur utama, pendukung maupun penutup adalah rotan dan beberapa jenis tali.

2.Tipologi Arsitektur Pagar Tradisional 
Pagar merupakan suatu elemen arsitektur yang di gunakan untuk melindungi kenyamanan dalam rumah maupun kebun. Ada dua fungsi utama pagar bagi orang Mee adalah; pertama memagari rumah tinggal entah itu rumah tinggal laki-laki atau rumah tinggal perempuan. Kedua mengelilingi kebun agar babi atau pencuri tidak masuk kedalam kebun.
Babi merupakan binatang piarahan yang berharga, cara memelihara babi (orang Mee) adalah malam hari di masukan kedalam kandang (ekina owa). Tetapi pada siang hari dibiarkan untuk berkeliaran di sekitar kebun atau rumah. Orang Mee hingga saat ini masih belum mengenal cara memelihara ternak secara moderen (dalam kandang). 
Sistem pemeliharaan babi seperti ini membuat orang Mee, harus berpikir untuk membuat pagar, agar makanan dalam kebun tetap tumbuh dengan baik, tanpa gangguan dari binatan liar, terutama babi (ekina). 
Ada tiga jenis pagar yang di buat oleh masyarakat suku Mee yang di bedakan menurut bentuk, kualiatas bahan yang digunakan, ukuran, dan cara pembuatan dari setiap pagar yang ada diantaranya; 

1. Wee eda
adalah pagar ini di tanam secara vertikal. Secara kualitas bahan, bila di banding dengan kedua jenis pagar, maka pagar ini memiliki kualitas yang cukup tinggi. Pemilihan jenis pohon untuk pagar ini tidak sembarang. Telah di tentutukan beberapa jenis pohon untuk membuat pagar. Jenis pohon yang pakai untuk membuat pagar ini antara lain, Yewo (kayu besi), Digi/ Didame, Obai, Duigi, Amo.

Selain kualitas bahan yang memiliki tingkat ketahanan yang cukup lama, pagar jenis ini juga sumber pendapatan uang (mege). Apabila suatu pohon ketika di tebang atau di belah keras maka jenis pohon ini memiliki kualitas ketahanan yang baik. 
Pagar ini berfungsi sebagai, pertama pembatas tanah leluhur/ kebun, kedua pembatas rumah dengan rumah, ketiga mengelilingi kebun agar babi tidak mencungkil makanan. Keempat mendirikan kandang ayam (bedo owa) atau babi (ekina owa). 
Lokasi pagar ini biasanya di dataran rendah, terutama untuk kebun-kebun di sekitas rumah. Untuk kebun hutan (kebun yang di buat dengan membersikan, menebang pohon disekitarnya) jarang di gunakan jenis pagar ini. Umumnya pagar ini di gunakan untuk memagari rumah dengan kebun di sekitar rumah yang terdapat banyak keliaran babi di sekitarnya.

(2) Petu Eda (Pagar Horinsontal)
Secara kualiatas bahan pagar ini masig lebih rendah dibanding wee eda. Tidak tahan lama, karena menggunkan kualitas bahan rendah. Ukuran pagar lebar±2cm, panjang ±200-300cm. Bentuk pagar ini adalah merupakan susunan papan yaang disusun dari bawah keatas. Papan-papan ini diikat pada pagar yang ditanam secara vertikal. Pagar ini muda di buat, sehingga waktu pengerjaan membutuhkan waktu relatif singkat.

Pagar ini, dibuat pada lokasi tertentu yang ditentukan dari lingkungan sekitrarnya. Misalnya, kebun hutan (bukit), lembah. Pemilihan pagar jenis ini, yang digunakan pada kebun hutan dan lembah dengan pertimbangn. Pertama, mudah mendapat bahan untuk membuat pagar. Kedua, jenis pagar yang bersifat sementara. Ketiga muda disesuaikan dengan kontur tanah. Keempat, proses pengerjaan dan pembuatan yang muda dan gampang.

(3) Tege Eda (Pagar Tiang)
. Pagar jenis ketiga yang dibuat oleh masyakat suku Mee adalah tege eda. Secara kualitas bahan, serta ketahanan terhadap iklim sekitar sangat relatif singkat. Bahan pembuatan pagar ini, diambil dari kayu yang masih muda (baru tumbuh). Masyarakat Papua menyebut kayu buah.

Pagar ini digunakan untuk mengelilingi kandang ayam. Tetapi, biasa digunakan untuk mengelilingi kebun atau rumah. Ukuran ketinggiannya lebih tinggi. 

3.Tipologi Arsitektur Jembatan Tradisional. 

            (1) Goo Koto
(Jembatan Gantung). Jembatan ini merupkan jmbatan sangat panjang. Fungsi jembatan ini adalah menyebragi ke kebun hutan atau luar kampung. Bentuk jembatan ini adalah model jembatan gantung. Namun yang menjadi persoalan atau bahaya adalah ketika menyebrang jembatan ini jatuh, maka manusia tersebut tidak di selamatkan, karna hanyut dalam air. 
(2) Koma Koto,
(Jembatan Model Perahu). Disebut jembatan model perahu karana bentuk dan cara pembuatan jembatan ini seperti perahu tradisional. Panjangnya jembatan ini ditentukan dari besar kecilnya kali atau sungai. Membuat jembatan ini, di buat di hutan seperti perahu tradisional. Kualitas bahan (kayu yang dipakai) adalah kayu besi (yeewo piya. Jenis kayu ini adalah salah satu jenis kayu yang kuat dan besar. Panjang satu pohon mencapai 70-100meter.

            (3) Tege Koto
(Jembatan Tiang). Tege koto, artinya jembatang tiang karena hampir semua kayu yang dipakai adalah tiang. Bahan-bahan untuk membuat jembatan ini dipilih beberapa jenis kayu berdasarkan kuliatas kayu. Kayu yang digunakan untuk jembatan ini adalah amoo piya, digi piya, yegou dan beberapa jenis kayu yang dianggap kuat dan bertahan terhap air.

Pada zaman dulu, pengikat antar tiang-tiang pada struktur utama, tiang penyangga maupun struktur pendukung adalah tali. Jenis tali yang dipilih adalah rotan dan beberapa jenis tali laninnya. Sesuai degnan perkembangan zaman, saat dapat sangat terlihat beberapa rumah pagar dan jembatan menggunkan paku dan kabel atau kawat besi. 

              (4) Piyauti Koto
(Jembatan Darurat), Jembatan ini di buat pada saat air sungai pasang. Letak jembatan ini adalah di hutan karena memang di gunakan hanya untuk menyebrang saat air sungai banjir. Jembatan ini juga model perahu, namun bisa dikatakan jembatan darurat sebab sering terjadi banyak banjir saat musim hujan.
jadi Bahwa arsitektur adalah simbol yang mencerminkan dasar hidup manusia. Arsitektur tradisional suku Mee adalah SIMBOL PEMERSATU ide, perasaan, perbedaan pandangan. Suku Mee memandang Arsitektur tradisional adalah tempat dan hasil budaya . Di situ mereka memaknai setiap fenomena alam dan masyarakat yang dihadapi dalam proses hidupnya.
Pembentukan ruang pada arsitektur Suku Mee terjadi dengan memertimbangkan tradisi masyaraakat dan penggunaan bahan-bahan lokal. Karena itu arsitektur suku Mee adalah salah satu contoh timbal balik antara alam dan budaya manusianya (nature and culture) yang bagus. Hal ini perlu dikemukakan karena, perkembangan mutakhir, arsitektur tidak lagi meningindahkan tradisi dan bahan, bentuk lokal sehingga banyak darinya kehilangan identitas.

Tingkat kesejateraan dan kemakmuran suku mee
Kesejahteraan dan kemakmuaran suatu bangsa dan etnis pada masa primitive tergantung dari manusia dalam arti bahwa seseorang jika ingin menajadi makmur maka seseorang memiliki sikap.
Mempunyai kemauan yang keras dalam diri orang mee.
Selalu berusaha keras memenuhi kebutuhan dengan cara-cara yang halal
Tidak muda putus asa dengan mudah dan begitu saja.
Siap mengambil resiko jika terjadi masalah pada usaha yang dimiliki contoh gagal panen.
Selalu mencari peluang dan jalan keluar untuk pengembangan dan kemajuan usaha mereka.
Menjadi manusia yang memiliki rasa miliki akan budayanya sendiri dan melestarikan dengan dasra bahwa budaya adalah landasan.
Selalu bersyukur atas pemberian yang diberikan tuhan (ugatame).
Menjadi berkat buat orang lain dalam arti bahwa memunculkan dalam hidup berkeluarga yaitu kasih yang di munculkan.
Tidak sombong dan rendah diri.
Memang tanah besar papua mempunya kekayaan alam yang begitu menjajikan. Didalam daerah orang sendiri terdapat kekayaan alam yang begitu berlimpah dan menjanjikan pula. Namun daerah mee sediri menurut kata orang tua bahwa “tanah itu hidup” dimana dikatakan anah itu hidup karena tanah adalah sumber segala sesuatu dan asal manusia berasala dari tanah maka tanah itu harus di hormati dengan cara melestarikan dan tidak membiarkan hutan gundul. Tanah orang mee menurut mereka adalah tanah itu dimiliki bukan hanya mereka saja melaikan dimilii oleh orang lain pula . sekarang muncul satu pertanyaan siapa itu orang lain yang mereka maksud. Orang lain yang mereka maksud adalah orang –orang yang mempunyai tanah itu “tuan tanah” (makipuwee)dan orang lain yang menjaga hutang dengan dunia mereka sendiri yaitu abe (perempuan setan),tameyai (setan terbang), yimiyo(setan rupa manusia), itu merupakan 3 komponen bersatu namun manusia mee dan 3 dunia gaib tersebut adalah satu dalam bentuk lingkungan fisik mereka. Kemakmuran dan kesejateraan bangsa mee di tentukan oleh mereka sendiri. Manusia mee akan makmur jika dia selalu mengikuti beberapa sifat yang sudah ada diatas di tambah dengan nilai-nilai hidup.beberapa nilai hidup mee adalah :
mogo kou ugatame-ugatame tetai (jangan menyembah berhala)
ikepa yoko ugatame beu (jangan ada padamu allah lain)
ugatame eka itopa teyabatai (jangan menyebut tuhan allahmu dengan sembarang).
Daa nago yuwii (kuduskanlah hari sabat)
Aku kai akaitai ya mana eyuwai (hormatilah ayah dan ibumu)
Oma teyamoti (jangan mencuri)
Puyamana tewegai(jangan bersaksi dusta)
Mogai tetai (jangan bersinah)
Okeiya agiyo aniya-aniya tetai
 
Kesepuluh nilai-nilai hidup diatas harus dijadikan landasan atau pondasi hidup dalam melangkah ke depan dalam mencari hidup yang lebih baik. Tujuan dari sepuluh perintah allah adalah sebagai suatu pedomaan hidup untuk berkarya di bumi ini. Sebagai manusia pastinya setiap individu di bumi ini juga ingin sejahtera dan makmur di dalam kehidupan. Suku mee sendiri adalah salah satu tipe suku yang nomaden dulu namun sejak mereka menetap di paniai maka disalah mereka merasakan susah dan senang hidup ini yang selama itu mereka belum pernah rasahkan mengapa karena selama mereka masih dikatan sebagai suku yang nomaden berartti bahwa seluruh kehidupan mereka tergantung pada alam yang mana mereka mencari kebutuhan sehari-hari lansung dari hutan dimana mereka bisa dikatakan bahwa makanan yang mereka makan bukan olahan dan tidak memiliki bahan kimia lain yang menyebabkan suku mee sendiri mempunyai umur yang cukup lama.
Pada zaman modern ini penduduk papua khusus manusia mee masih dikatakan berada dibahwah standar hidup yang rendah yang mana mereka untuk mencari sepiring nasi untuk sehari saja susah pada hal tanah besar ini kaya akan kekayaan alam yang begitu menjajikan. Namun sekarang yang menjadi pertanyaan adalam mengapa masih ada orang papua yang berada dibawah standar hidup yang rendah. Beberapa indicator kemakmuran di tanah papua adalah :
Table social Indicators
2007
Penduduk miskin
Indek pembangunan
Manusia
Sumber penerangan
Listrik (%)
Akses air bersih

40.78
63.41
46.36
38.44

Jadi dari table diatas dapat kita lihat bahwa papua merupakan suatu pulau yang kaya, dari “KATA ORANG” bahkan kita sendiri bisa melihatnya dengan mata telanjang bahwa kekayaan kita tersebut ada dimana-mana dan dalam rupa apa saja baik itu emas, tambang minyak, air bersih yang dihasikan hutan dan hasil hutan lainya. namun disini saya mau katakan bahwa pemerintah harus bekerja keras demi menjamin kesejateraan masyarakat ini karena dari table ini sangat tampak bahwa sebagaian kecil dari masyarakat papua yang meningkmati kekayaan alam papua namun itu juga secara tidak sempurna. Dari table diatas dapat kita lihat bahwa 40,78% masyarakat papua berada dibawah standar hidup atau berada dibawah standar hidup yang memperhatikan. dimana itu bisa dikatakan bahwa mereka mencari makan pun susah. Sekarang jika kita bandingkan dengan indeks pembagunan manusia atau pembagunan sumber daya manusia itu sudah 63,41% dan jika kita bandingkan dengan dengan penduduk miskin maka kira-kira 2.59% manusia papua yang sudah berpendidikan dan belum mendapatkan pekerjaan yang tetap. jadi itu berartri bahwa pemerintah provinsi papua tidak memberikan peluang dan kempatan kepada generasi papua untuk berkarya diatas tanahnya sendiri mengapa demiakian ? karena pemerintah provinsi papua tidak membuka lapangan pekerjaan yang baru yang cocok untuk mereka. Sekarang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yaitu dari table diatas terdapat sumber penerangan sebesar 46,36% dan akses air bersih 38,44% itu berarti bahwa 54,64% penduduk papua tidak memakai penerangan yang mana sekarang dipapua sudah ada dana otonomi khusus yang cukup besar namun banyak masyarakat pula yang tidak mengunakan aliran listrik untuk menerangi rumah mereka. Disini masalah air bersih juga menjadi masalah yang sangat besar untuk masyarakat papua dan menjadi suatu pekerjaan rumah yang mau tidak mau perlu di tuntaskan tahap demi tahap untuk memberikan suatu kesejahteraan merata. Dalam hal ini air bersih adalah kebutuhan pokok rumah tangga yang perlu di tuntaskan dimana jika kita lihat, maka terdapat kira-kira 61,56% penduduk papua yang tidak mengunakan air bersih untuk kebutuhan konsumsi mereka tiap harinya. Sekarang kita akan lihat berapa besar banyak manusia papua yang sedang diberdayakan dan berapa banyak manusia papua yang masih buta huruf.
Dengan dimikian diatas dapat kita ambil pendapat baru bahwa ini semuncul dari kesalahan transpofasi bahasa alkitab ke dalam bahasa budaya dengan contoh konkrit adalah pikeda. Dimana seiring dengan perkembangan zaman yang begitu menjajikan dengan banyaknya peluandan yang cukup banyak dan kesempatan untuk bekerja namun disini dari itu sebuah ancaman dan worning yang diantaranya adalah sebagai berikut
Ancaman genoside
Ancaman masuknnya budaya baru daari luar yang mengacurkan (breaking down) budaya asli (original) yang ada di dalam suku-suku di papua khussunya suku mee.
Ancaman dari dunai IPTEK adalah manusia dipaksa untuk mengetahui mengetahui suatu ilmu pasti dan alam dengan tidak memikirkan baik buruknya masalah itu sendiri.
Masalah ini juga berasal dari IPTEK yaitu pornografi.
Dan ada juga masalah lain yang mengahambat pertumbuhan SDM dalam budaya ini adalah
Factor kesalah fahaman budaya
Factor ini bisa muncul sebab seorang tidak di didik melalui budaya

Tinjauan Cultural suku Mee sebagai langkah menuju preventif
Manusia cenderung untuk mengembangkan, aspek-aspek kehidupannya, sampai mencapai suatu derajat kehalusan atau kompleksitas tertentu. Kemampuan manusia untuk melakukan hal itu, kadang-kadang menutupi kenyataan, bahwa mungkin manusia menghadapi masalah-masalah dasar yang harus diatasinya, apabila dia ingin mempertahankan eksistensinya. Masalah-masalah tersebut tidak hanya menyangkut eksistensinya secara fisik, akan tetapi juga secara sosial. Unsur-unsur dasar dari kehidupan sosial adalah syarat-syarat minimal yang harus dipenuhi, demi eksistensinya suatu kehidupan sosial. Unsur-unsur dasar tersebut merupakan kondisi-kondisi yang harus dipelihara dan dikembangkan, agar kehidupan sosial dapat bertahan.
Untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya, manusia mengembangkan pola-pola perilaku yang dapat dianggap sebagai bentuk-bentuk dasar dari organisasi sosial. Pola-pola tersebut antara lain, mencakup adat-istiadat yang paling sederhana sampai pada hal-hal yang relatif kompleks. adat-istiadat (custom) atau secara alternatif sering disebut juga kebiasaan (folkways)merupakan istilah yang menunjuk perilaku yang khusus dan distandarisasikan yang merupakan kebiasaan bagi penganut-penganut suatu kebudayaan tertentu. Seperti yang dikatakan oleh  Edwar Tylor (1832-1917), bahwa “kebudayaan (klasik) adalah setiap hasil perilaku manusia yang kemudian diajarkannya kepada generasi-generasi berikutnya yang pada gilirannya mengakumulasikan serta mentransmisikan pengetahuannya.Pengertian tersebut dapat diterapkan pada suatu perilaku yang secara relatif, sederhana misalnya, memberi salam kepada seorang sahabat, sampai pada peristiwa-peristiwa yang agak kompleks seperti, misalnya perkawinan, upacara adat, dan lain-lain”.
Hubungan antara pola-pola adat-istiadat dalam suatu masyarakat biasanya terorganisasikan sedemikian rupa sehingga berkaitan dengan masalah-masalah atau tujuan-tujuan tertentu. Pola atau perangkat adat-istiadat tertentu, dinamakan peranan (role). Peranan berhubungan erat dengan harapan-harapan mengenai perilaku-perilaku yang dianggap pantas. Peranan-peranan tertentu bersifat terbuka dan dapat diberikan kepada setiap warga masyarakat. Sehingga dapat dijadikan suatu tolok ukur berdasarkan pendapat Edwar Tylor, yang menyatakan bahwa kebudayaan/peradaban merupakan kompleks menyeluruh yang mencakup, pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan lain kemampuan serta kebiasaan yang dipunyai manusia sebagai warga dari suatu masyarakat.

Perkembangan perubahan kebudayaan suku Mee
Nama yang diturunkan oleh leluhur suku adalah Mee. Mee berarti orang-orang yang telah dipenuhi dengan akal budi yang sehat; dapat berpikir secara logis; dapat membedakan suku ini dari suku yang lain; dapat membedakan barang miliknya dengan milik orang lain; daerah garapannya dengan garapan milik orang lain; dan dapat mentaati amanat-amanat yang diwariskan oleh leluhur, dan amanat yang paling utama yang dilarang adalah hal perzinahan. (Asmara Adhy, 1980:71). Suku Mee dikenal sebagai “petani” ubi jalar, talas, sayur-mayur, tebu dan buah-buahan. (Slamet Ina E., 1964:35). Kedua hal ini menjadi fokus tinjauan perkembangan kebudayaan suku Mee pada masa kini.
Ada sedikitnya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sebagai tolok ukur dan bahan analisis agar pemahaman kita dapat tertuju pada tujuan pokok penulisan judul opini, yaitu:
Mengapa suku Mee sekarang tidak dan jarang melakukan pesta budaya “yuwo” yang pada masa-masa lalu ini merupakan kegiatan tradisi suku Mee?
mengapa orang Mee sekarang tidak kenal daerah-daerah yang dikeramatkan oleh leluhur/orang tua untuk terus dilindungi tetapi yang terjadi adalah dibongkar untuk membuat kebun, rumah dan atau kandang ternak?
Mengapa orang Mee sekarang tidak lagi memegang dan atau menyimpan benda-benda keramat dan benda-benda antik?; yang dulunya oleh leluhur kita menggunakan itu untuk mengatur dan mempertahankan hidup yang baik.
Mengapa orang Mee sekarang pada usia remaja bisa pacaran dengan romantis hingga pada etape erotisme yang susah dikendalikan? Padahal, dahulu hal demikian disebut mogaii dan sangat tabu dilakukan oleh suku Mee karena peranan tradisi adat-istiadat yang kuat dan baik sehingga sangat ditakuti untuk dilakukannya.
Mengapa orang Mee sekarang jarang menanam ipoo untuk koteka, Tawa (rokok)? Padahal, kedua tumbuhan ini sangat diperhatikan oleh kaum lelaki suku Mee pada zaman dulu.

Penulis: Frans Mote
Redaksi : Wakeikagoo.Net



Read more

SESUNGGUHNYA UNTUK APA AKU ADA DI DUNIA

KEHIDUPAN YANG
DIGERAKKAN OLEH TUJUAN
SESUNGGUHNYA UNTUK APAKAH AKU ADA DI DUNIA
Hari 1 : Semua Diawali Dengan Allah.
Hari 2 : Anda Ada Bukan Karena Kebetulan.
Hari 3 : Apa Yang Menggerakkan Kehidupan Anda.
Hari 4 : Diciptakan Untuk Kekekalan.
Hari 5 : Memandang Kehidupan Dari Sudut Pandang Allah.
Hari 6 : Kehidupan Adalah Suatu Penugasan Sementara.
Hari 7 : Alasan Untuk Segala Sesuatu.

TUJUAN #1 : ANDA DIRENCANAKAN BAGI KESENANGAN ALLAH
Hari 8 : Direncanakan Bagi Kesenangan Allah
Hari 9 : Apa Yang Membuat Allah Tersenyum?
Hari 10 : Inti Penyembahan
Hari 11 : Menjadi Sahabat-Sahabat Karib Allah
Hari 12 : Mengembangkan Persahabatan Anda Dengan Allah
Hari 13 : Penyembahan Yang Menyenangkan Allah
Hari 14 : Ketika Allah Terasa Jauh

TUJUAN #2 : ANDA DIBENTUK UNTUK KELUARGA ALLAH
Hari 15 : Dibentuk Untuk Keluarga Allah
Hari 16 : Hal Yang Paling Penting
Hari 17 : Tempat Untuk Menjadi Anggota
Hari 18 : Menjalani Kehidupan Bersama-Sama
Hari 19 : Mengembangkan Komunikasi
Hari 20 : Memulihkan Persekutuan Yang Retak
Hari 21 : Melindungi Gereja Anda

TUJUAN #3 : ANDA DICIPTAKAN UNTUK MENJADI SERUPA
DENGAN KRISTUS
Hari 22 : Diciptakan Untuk Serupa Dengan Kristus
Hari 23 : Bagaimana Kita Bertumbuh
Hari 24 : Diubahkan Lewat Kebenaran
Hari 25 : Diubah Lewat Persoalan
Hari 26 : Bertumbuh Lewat Percobaan
Hari 27 : Mengalahkan Percobaan
Hari 28 : Perlu Waktu

TUJUAN #4 : ANDA DIBENTUK UNTUK MELAYANI ALLAH
Hari 29 : Menerima Tugas Anda
Hari 30 : Dibentuk Untuk Melayani Allah
Hari 31 : Memahami Shape Anda
Hari 32 : Memakai Apa Yang Telah Allah Berikan Kepada Anda
Hari 33 : Bagaimana Pelayanan Yang Sejati Bertindak
Hari 34 : Berpikir Seperti Seorang Hamba Atau Pelayan
Hari 35 : Kuasa Allah Di Dalam Kelemahan Anda

TUJUAN #5 : ANDA DICIPTAKAN UNTUK SEBUAH MISI
Hari 36 : Diciptakan Untuk Sebuah Misi
Hari 37 : Membagikan Kesan Kehidupan Anda
Hari 38 : Menjadi Seorang Kristen Kelas Dunia
Hari 39 : Menyeimbangkan Kehidupan Anda
Hari 40 : Hidup Dengan Tujuan

SESUNGGUHNYA UNTUK
APAKAH AKU ADA
DI DUNIA?
Siapa mempercayakan diri kepada kekeyaannya
akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti
daun mudah.

Amsal 11:28

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN,
... Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air,
yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang
air, dan yang tidak mengalami datangnya panas
terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak
khwatir dalam tahun kering, dan yang tidak
berhenti menghasilkan buah

Yeremia 17:17-18

Hari 1 : Semua Diawali Dengan Allah.
Hari 2 : Anda Ada Bukan Karena Kebetulan.
Hari 3 : Apa Yang Menggerakkan Kehidupan Anda.
Hari 4 : Diciptakan Untuk Kekekalan.
Hari 5 : Memandang Kehidupan Dari Sudut Pandang Allah.
Hari 6 : Kehidupan Adalah Suatu Penugasan Sementara.
Hari 7 : Alasan Untuk Segala Sesuatu.

Penulis : ( Frans Mote/Wakeikagoo.Net )



Read more

Cultural Suku Mee Sebagai Langkah Menuju Preventif

Tinjauan Cultural suku Mee sebagai langkah menuju preventif
Manusia cenderung untuk mengembangkan, aspek-aspek kehidupannya, sampai mencapai suatu derajat kehalusan atau kompleksitas tertentu. Kemampuan manusia untuk melakukan hal itu, kadang-kadang menutupi kenyataan, bahwa mungkin manusia menghadapi masalah-masalah dasar yang harus diatasinya, apabila dia ingin mempertahankan eksistensinya. Masalah-masalah tersebut tidak hanya menyangkut eksistensinya secara fisik, akan tetapi juga secara sosial. Unsur-unsur dasar dari kehidupan sosial adalah syarat-syarat minimal yang harus dipenuhi, demi eksistensinya suatu kehidupan sosial. Unsur-unsur dasar tersebut merupakan kondisi-kondisi yang harus dipelihara dan dikembangkan, agar kehidupan sosial dapat bertahan.
Untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya, manusia mengembangkan pola-pola perilaku yang dapat dianggap sebagai bentuk-bentuk dasar dari organisasi sosial. Pola-pola tersebut antara lain, mencakup adat-istiadat yang paling sederhana sampai pada hal-hal yang relatif kompleks. adat-istiadat (custom) atau secara alternatif sering disebut juga kebiasaan (folkways) merupakan istilah yang menunjuk perilaku yang khusus dan distandarisasikan yang merupakan kebiasaan bagi penganut-penganut suatu kebudayaan tertentu. Seperti yang dikatakan oleh  Edwar Tylor (1832-1917), bahwa “kebudayaan (klasik) adalah setiap hasil perilaku manusia yang kemudian diajarkannya kepada generasi-generasi berikutnya yang pada gilirannya mengakumulasikan serta mentransmisikan pengetahuannya.Pengertian tersebut dapat diterapkan pada suatu perilaku yang secara relatif, sederhana misalnya, memberi salam kepada seorang sahabat, sampai pada peristiwa-peristiwa yang agak kompleks seperti, misalnya perkawinan, upacara adat, dan lain-lain”.
Hubungan antara pola-pola adat-istiadat dalam suatu masyarakat biasanya terorganisasikan sedemikian rupa sehingga berkaitan dengan masalah-masalah atau tujuan-tujuan tertentu. Pola atau perangkat adat-istiadat tertentu, dinamakan peranan (role). Peranan berhubungan erat dengan harapan-harapan mengenai perilaku-perilaku yang dianggap pantas. Peranan-peranan tertentu bersifat terbuka dan dapat diberikan kepada setiap warga masyarakat. Sehingga dapat dijadikan suatu tolok ukur berdasarkan pendapat Edwar Tylor, yang menyatakan bahwa kebudayaan/peradaban merupakan kompleks menyeluruh yang mencakup, pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan lain kemampuan serta kebiasaan yang dipunyai manusia sebagai warga dari suatu masyarakat.
 
Perkembangan perubahan kebudayaan suku Mee
Nama yang diturunkan oleh leluhur suku adalah Mee. Mee berarti orang-orang yang telah dipenuhi dengan akal budi yang sehat; dapat berpikir secara logis; dapat membedakan suku ini dari suku yang lain; dapat membedakan barang miliknya dengan milik orang lain; daerah garapannya dengan garapan milik orang lain; dan dapat mentaati amanat-amanat yang diwariskan oleh leluhur, dan amanat yang paling utama yang dilarang adalah hal perzinahan. (Asmara Adhy, 1980:71). Suku Mee dikenal sebagai “petani” ubi jalar, talas, sayur-mayur, tebu dan buah-buahan. (Slamet Ina E., 1964:35). Kedua hal ini menjadi fokus tinjauan perkembangan kebudayaan suku Mee pada masa kini.
Ada sedikitnya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sebagai tolok ukur dan bahan analisis agar pemahaman kita dapat tertuju pada tujuan pokok penulisan judul opini, yaitu:
Mengapa suku Mee sekarang tidak dan jarang melakukan pesta budaya “yuwo” yang pada masa-masa lalu ini merupakan kegiatan tradisi suku Mee?

mengapa orang Mee sekarang tidak kenal daerah-daerah yang dikeramatkan oleh leluhur/orang tua untuk terus dilindungi tetapi yang terjadi adalah dibongkar untuk membuat kebun, rumah dan atau kandang ternak

Mengapa orang Mee sekarang tidak lagi memegang dan atau?

menyimpan benda-benda keramat dan benda-benda antik?

yang dulunya oleh leluhur kita menggunakan itu untuk mengatur dan mempertahankan hidup yang baik.
Mengapa orang Mee sekarang pada usia remaja bisa pacaran dengan romantis hingga pada etape erotisme yang susah dikendalikan? Padahal, dahulu hal demikian disebut mogaii dan sangat tabu dilakukan oleh suku Mee karena peranan tradisi adat-istiadat yang kuat dan baik sehingga sangat ditakuti untuk dilakukannya.
Mengapa orang Mee sekarang jarang menanam ipoo untuk koteka, Tawa (rokok)? Padahal, kedua tumbuhan ini sangat diperhatikan oleh kaum lelaki suku Mee pada zaman dulu.
Dari sekian pertanyaan di atas ini menunjukkan adanya perubahan yang terjadi secara signifikan dalam tradisi suku Mee akibat perkembangan arus globalisasi. Perkembangan globalisasi ini disertai aroma budaya luar (modern) yang menyebar luas dan dalam berbagai bentuk yang cenderung mempengaruhi aspek kehidupan suku Mee. Faktor yang cenderung mempengaruhi perubahan tradisi suku Mee adalah: Aspek Masuknya Agama dan aspek masuknya Pemerintah.
Aspek masuknya Agama pemenjadi awal perubahan (difusi antarmasyarakat) budaya di kalangan suku Mee karena orang asing pertama yang menginjakkan kaki di tanah Paniai adalah seorang imam yang dapat menyebarkan agama. Pengaruh daripada masuknya agama ini tidak dapat merubah suatu sistim budaya Mee secara menyeluruh (universal). Akan tetapi sebagian yang diangap berlawanan dengan ajaran agama.
Aspek mesuknya pemerintah di wilaya paniai  mengakibatkan sistem cultural suku Mee dapat mengalami suatu perkembagan sistem pemerintahan yang ada. Sitem pemerintahan yang ada dipimpin oleh Tonawi (kepala Suku) Namun masih terbatas pada suatu wilaya yang dibatasi oleh gunung, sungai, danau dan lainnya. Disamping itu juga Tonawi ditentukan berdasarkan kekayaan dan cara bertanggung jawab demi kepentingan umum.
Hal perluh diketahui bahwa ada beberapa unsur budaya suku Mee yang mengalami perubahan maupun perkembangan yang drastis adalah unsur budaya pemerintahan(tonowi, meibo) , unsur kepercayaan (mogai daa, kegotai), unsur berpakaian (koteka, Moge) dan unsur ekonomi (Mege).
Kesimpulan
Suatu system cultural akan berubah apabila ada mekanisme perubahan budaya yang meliputi Inovasi, Discovery, dan invention dilakukan sehingga terjadi difusi dan globalisasi budaya. Ketika suku Mee mengalami purubahan budaya pada era praglobalisasi  ini maka akan terlihat eksistensi diri suku Mee itu secara jelas. Apakah mengalami kemajuan atau kemunduran atas adat istiadat (costum) dan Kebiasaan (folkways) suku Mee?. Dengan demikian sudah di paparkan dari awal dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab oleh semua insan suku Mee yang membaca maupun tidk membaca tulisan ini. Karena  5 (lima) pertanyaan diatas adalah suatu tolok ukur yang harus diukur, demi menyelamatkan identitas, ektesitas, dan budaya suku Mee dimasa sekarang ini maupun masa yang akan datang (generasi yang akan datang) .

Oleh : Frans Mote. Mahasiswa UNIVERSITAS OTTOW GEISSLER  PAPUA
Penulis : Frans Mote
Redaksi : Wakeikagoo.Net



Read more

Menjadi Manusia Yang Bijak Haruslah Refleksi Diri Dengan Baik

PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN YANG KOKOH
_______________________________________________
oleh: Saverius Fransiskus Mote
[Cara pengambilan manfaat / kedayagunaan bagi diri sendiri atau kelompok:

1. prinsip: “nilai kebenaran terutama tertanam ke dalam jiwa melalui kesadaran dan pengulangan berkali-kali (terlebih-lebih secara meditatif) atas nilai kebenaran tersebut”…itulah cara kerja rahmat-daya-kekuatan Allah dalam mendandani dan menyempurnakan setiap manusia yang terbungkus oleh kejasmaniannya;

2.“bacalah bahan ini begitu saja, dengan mata hati dan budi terbuka, dalam keheningan, cukup konsentratif (focus), cukup kritis, secara amat tidak tergesa-gesa, tanggap terhadap gerak-gerik batin (ingatan, rasa perasaan, fantasi, imaginasi, asosiasi, kehendak, inspirasi, kreativitas, panca indera rohani) dan dengan murah hati mengikuti dorongan-tarikan positif gerak-gerik batin tersebut, dilaksanakan 1 x 2 minggu”]

I. TEKS KITAB SUCI

a). Mt. 7: 24-27……………… “Membangun kepribadian yang kokoh bagaikan membangun rumah di atas batu; membangun kepribadian yang lemah seperti membangun rumah di atas pasir"

b).Yoh 5:41,44………………“Aku (YK) tidak memerlukan hormat dari manusia…tapi mengejar hormat yang datang dari Allah yang Esa."

c).Mt.5: 3……………………“Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga "

d).Mt. 5: 48………………….“Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”

e).Lk.9:23…………………… “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku"

f).Mt.25:21………………. “(Talenta) Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam perkara yang besar"

g).Lk.12: 28………………….“Jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya”

h).Mt.7:13-14…………………”Masuklah melalui pintu yang sesak dan jalan yang sempit yang menuju ke kehidupan (kebahagiaan, kesuksesan)"

i).Lk. 5:5-6……………………”Usaha manusia yang dipersatukan dengan Allah menghasilkan buah-buah kebaikan”

II. ADHORTASI (PENYEMANGATAN):

1.Setiap manusia dianugerahi Allah kemerdekaan jiwa. Juga dianugerahi kemampuan-kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang. Hukum perkembangan diletakkan Allah dalam setiap manusia. Dan Allah memandang amat penting “sikap dan perilaku manusia terhadap hukum perkembangan-Nya tersebut”. Dalam pengadilan akhir (saat manusia menghadap hadirat Allah) Allah tidak hanya memperhitungkan hasil, tetapi juga proses menuju hasil.

2.Allah yang esa adalah Allah yang maha kasih dan Allah yang maha penyelenggara hidup-gerak seluruh ciptaan-Nya (Lk.12: 22-34). Tak ada ciptaan di bumi ini yang lepas dari kekuatan maha kuasa Allah. Sejahat-jahatnya manusia tak mungkin menghentikan cinta kasih Allah yang maha agung. “Allah memberikan matahari bagi orang jahat maupun orang baik” (Mt.5: 45). Oleh sebab itu kita, manusia, perlu sekali menemukan daya-daya ilahi Allah yang mengelola dan menyempurnakan kodrat kemanusiaan kita masing-masing.

3. Dalam keterbedaan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakat pria dan wanita, kaum wanita dianugerahi hak perkembangan-pertumbuhan yang sama dengan kaum pria. Pada prinsipnya baik pribadi wanita maupun pribadi pria sama-sama berhak untuk berkembang semaksimal mungkin, seturut keterbatasan kodrat masing-masing. Maka, baik pria aupun wanita dapat berkembang memasuki aneka profesi sebatas kenyataan-kenyataan hukum kodrat yang tercipta dalam diri masing-masing.

4. Secara dasariah Allah yang Esa (Trinitas Yang Maha Kudus) menciptakan-memelihara-mengembangkan setiap manusia, apapun atribut-atribut yang melekat padanya (agama, aliran politik, status sosial, ras, etnis, dll). Sehingga sesungguhnya sesama kita adalah saudara kita, karena sama-sama diciptakan-dipelihara-disempurnakan oleh Allah yang sama. Oleh karena itu pula harkat dan martabat pria juga sama dengan harkat dan martabat wanita di hadapan Allah dan sesama.

5.Setiap wanita dan pria dikehendaki oleh Allah untuk membangun rumah-kepribadian dirinya. Sedikit banyak rumah-kepribadian itu sangat ditentukan oleh diri sendiri. Meskipun dalam arti tertentu juga ditentukan-dipengaruhi oleh faktor-faktor diluar dirinya. Faktor-faktor dalam diri a.l: kekuatan fisik, kekuatan akal sehat, kekuatan kehendak, kekuatan fantasi, kekuatan ingatan, kekuatan asosiasi, kekuatan kreativitas, kebiasaan-kebiasaan psikologis (intellectual quotiens, emosional quotiens, spiritual quotiens). Faktor-faktor dalam diri yang terlatih baik dan benar akan mendukung lahirnya kepribadian diri yang kokoh. Memang faktor-faktor dalam diri yang luka, perlu disembuhkan melalui penyembuhan luka-luka batin atau melalui meditasi atau kontemplasi terahmati yang menyembuhkan.

6. Faktor-faktor dari luar diri dapat mendukung pembentukan kepribadian yang kokoh, misalnya: tuntutan disiplin, pembiasaan bertanggungjawab, contoh-contoh baik dari lingkungan hidup-karya, kebiasaan berdoa, kebiasaan bertemu dengan pembimbing rohani, kebiasaan pemeriksaaan batin dsm. Namun faktor-faktor dari luar juga dapat melemahkan pembentukan kepribadian yang kokoh, misalnya: kebiasaan tidak tertib, pengaruh negatif lingkungan hidup, keadaan fisik yang kurang sehat dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain.

7. Yesus Kristus menyebutkan, bahwa kepribadian yang kokoh sentausa antara lain akan terwujud kalau manusia berani “menyangkal diri”. Artinya melawan kecenderungan-kecenderungan diri yang berarah akan menyetujui godaan-godaan jahat. Ada ungkapan terkenal: tidak ada kesukaran yang tersukar selain kesukaran mengalahkan diri sendiri. Kepribadian juga akan kokoh apabila orang berani “memanggul salib”. Artinya: orang berani duka-tertekan batin dalam menghadapi aneka tantangan dan kesulitan dalam hidup dan karyanya; orang berani berdaya tahan tinggi dalam menghadapi godaan-godaan jahat; juga tekun-tabah-setia dalam memikul tanggungjawab yang ringan maupun berat.

8. Juga terkandung dalam pernyataan Yesus Kristus, bahwa kepribadian akan terbentuk kokoh apabila orang mau mengikuti Dia. Artinya: mengikuti cara Dia beriman yang sangat mendalam, baik personal maupun komunal, kepada Bapa di Sorga; mengikuti Dia dalam memahami kehendak-perintah-larangan dari Bapa-Nya; juga mengikuti Dia dalam keteguhan luar biasa berpegang teguh pada kesucian hidup, meskipun menghadapi aneka fitnah dan caci maki dari orang-orang yang iri hati dan penuh egoisme.

9. Kepribadian yang kokoh ternyata merupakan hasil dari perjuangan setia tanggungjawab dan kebaikan dalam perkara-perkara kecil (Mt.25: 21). Kebenaran itulah kiranya yang juga dialami Yesus Kristus sejak kecil sampai umur dewasa di Nazaret. “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Lk.2: 52). Demikian, keunggulan orang Katolik dalam studi keilmuan dan dalam ketekunan-ketelitian mengembangkan kekayaan-manfaat keilmuannya bagi perbaikan kesejahteraan umum sesamanya.

10. Bahan dasar kepribadian kita, baik dalam arti jasmani maupun dalam arti rohani, bersumber asal dari Allah. Allahlah sumber kekuatan untuk memelihara dan menyempurnakan bahan dasar tersebut (bdk. Lk.12: 22-34). Seharusnya memang perlu kita temukan terlebih dahulu kekokohan kepribadian macam apa yang perlu kita usahakan menurut kehendak-rencanaNya. Panggilan menjadi militer menuntut kekokohan kepribadian yang sedikit banyak lain dari panggilan untuk menjadi pastor atau biarawan-biarawati. Demikian juga kekokohan kepribadian seorang ibu rumah tangga akan sedikit berbeda dari seorang ibu yang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dst.

11. Dalam proses membentuk kepribadian yang kokoh ternyata terdapat banyak kendala yang harus diatasi. Kendala-kendala itu a.l.: kendala nilai budaya yang tertanam dalam diri sendiri yang belum tentu bersifat sejalan dengan nilai-nilai Injil Yesus Kristus (misalnya: budaya patriarkal atau budaya matriarkal dsm); juga kendala luka-luka batin yang umumnya agak sulit disembuhkan; demikian juga kendala tertanamnya egoisme-egoisme secara mengakar, dll. Secara prinsipiil kita percaya, bahwa segala usaha kita akan menghasilkan buah-buah kebaikan, apabila usaha tersebut tersatukan dengan kekuatan iman pada Tuhan (bdk. Lk.5: 5-6).

12. Untuk pembentukan kepribadian yang kokoh memang sangat diperlukan sikap kerendahan hati mendalam. Artinya: orang sangat mengakui diri penuh kelemahan, sehingga sangat mendambakan terang-kekuatan dari Allah (bdk. Mt 5:3). Aneka kelemahan dan kebiasaan buruk perlu diatasi satu demi satu secara penuh kesungguhan hati dan kebersamaan dengan Tuhan secara terus-menerus. Hal itu memang membosankan dan menjenuhkan. Namun itulah wujud nyata dari sabda Tuhan “masuklah pintu yang sesak dan jalan yang sempit”, sebab memang itulah cara yang benar menuju kehidupan (:kesuksesan, kebahagiaan, kedamai-tenteraman).

13. Banyak orang yang lebih memilih pintu yang lebar dan jalan yang luas, yang membawa manusia ke arah kebinasaan (:kesengsaraan, kesuraman hidup, keresahan dan ketidakdamaian). Umumnya lebih banyak orang di bumi ini yang lebih condong untuk: tidak jujur daripada jujur, malas daripada rajin, serampangan daripada teliti, sembrono daripada serius, tidak bertanggungjawab daripada bertanggungjawab, korupsi daripada tidak korupsi, kolusi daripada tidak kolusi, nepotisme daripada tidak nepotisme, dst. dst. Jelas, bahwa membentuk kepribadian yang kokoh menuntut perjuangan keras. Sebab de facto orang “harus melawan godaan-godaan setan yang begitu banyak”.

14. Kepribadian yang kokoh akan terbentuk melalui proses pembinaan diri untuk sebudi dan sehati dengan Tuhan Yesus (Allah). Untuk berkembang ke arah sebudi dengan Tuhan Yesus, orang bisa belajar menikmati “meditasi” atas perikope-perikope dalam Injil/Kitab Suci. Dan untuk berkembang kearah sehati dengan Tuhan Yesus, orang bisa belajar “berkontemplasi” atas perikope-perikope dalam Injil/Kitab Suci. Dengan meditasi yang terahmati. Allah menyembuhkan cara-cara berpikir yang tak sehat atau tak sejalan dengan budaya pikir Allah. Demikian pula dengan kontemplasi yang terahmati, orang disembuhkan oleh Allah dari kebiasaan-kebiasaan rasa-merasa yang buruk, yang tak sesuai dengan rasa-perasaan Allah.

15. Dalam kebiasaan suci para Santo dan Santa, mereka biasa melakukan pemeriksaan batin dua kali sehari. Mereka meneliti batin pada siang dan malam hari: macam apa kejatuhan dosanya, rahmat-rahmat macam apa saja yang diterimanya dari Allah sampai saat itu. Dan apakah perbaikan khususnya (satu kelemahan yang difokus untuk diperbaiki dalam sementara waktu) mengalami peningkatan atau penurunan? Dengan kerajinan meditasi/kontemplasi/pemeriksaan batin itulah kepribadian para Santo dan Santa menjadi dikokohkan oleh Tuhan.

16. Seberapa jauh peran ilmu psikologi dalam proses pembentukan kepribadian yang kokoh? Tentu saja ada sumbangan-sumbangan yang berharga dari ilmu psikologi,a.l.:

a. membantu menemukan bakat dan minat yang ada dalam diri sendiri;

b. membantu pembentukan mental-psikologis yang sehat dan benar melalui pengalaman-pengalaman yang menggerakkan potensi-potensi psiko-motorik.

c. Membantu pengertian dan pemahaman atas aneka kepribadian manusia dan bagaimana memperlakukan sesama dengan baik dan benar.
Ilmu-ilmu psikologi yang sudah teruji dapat dikategorikan sebagai karya Allah yang juga bermanfaat untuk pembentukan kepribadian yang kokoh.

17. Dalam Mt.5: 48 Yesus Kristus menegaskan supaya kita menjadi sempurna seperti Bapa di Sorga yang sempurna adanya. Jelas, manusia yang berdaging ini tidak mungkin membangun kesempurnaan hidup sama seperti Bapa di Sorga yang tidak berdaging. Namun mengapa ungkapan itu tetap ditulis juga oleh Matius? Itulah gaya penulisan pengarang Injil Matius yang bersifat “menyangatkan (superlatif)”. Maka arti-arti yang jelas-jelas diajarkan oleh Yesus Kristus a.l.:

a. Allah memberikan hukum pertumbuhan dalam diri manusia, baik pria maupun wanita;

b. Allah akan meminta pertanggungjawaban dari setiap manusia, bagaimana de facto mengolah hukum pertumbuhan tersebut;

c. Allah sangat memandang penting dan penuh perhatian terhadap hukum perkembangan tersebut dan tak henti-hentinya menawarkan daya-daya (rahmat-rahmat) bantuan-Nya melebihi yang diberikan-Nya kepada makhluk-makhluk lain di bawah derajat manusia (Lk. 12: 22-34).

d. Allah menghendaki supaya manusia itu selalu terus menerus berjuang untuk bertumbuh-berkembang sampai detik akhir hayat hidup jasmaniahnya.

e. Allah sangat memahami, bahwa tidak mungkin manusia mencapai kesempurnaan sama dengan diri Allah Bapa yang “Maha Kuasa” di Sorga.

f. Arah kesempurnaan manusia hendaklah selaras dengan kehendak-kehendak Allah di Sorga dan hendaknya manusia bekerjasama dengan diri Allah Bapa dalam Yesus Kristus. Oleh sebab itu mutlak perlu mengenali kehendak-kehendak Allah Bapa melalui Injil Yesus Kristus.

18.Dalam bahasa sehari-hari kekokohan kepribadian a.l. berarti:

1). Pertama-tama dan terutama kokoh dalam arti kepribadian yang bersahabat erat dengan Allah, sehingga tak satu pun godaan-godaan setan berhasil menjatuhkannya ke kedosaan.

2). Kokoh, juga dalam arti kepribadian yang terbentuk dari jalinan sinkronis (harmonis) kematangan intelektual-kematangan emosional-kematangan spiritual.

3). Kokoh, dalam arti kepribadian yang tetap mampu menguasai diri dalam keseimbangan, walaupun dirinya sedang tertimpa musibah besar atau kegembiraan yang luar biasa.

4).Kokoh, juga dalam arti berpribadi yang tidak mudah digoyah dalam masalah-masalah yang secara moral-spiritual termasuk “nilai prinsipial obyektif”.

5). Kekokohan dalam arti kepribadian yang selalu penuh semangat dalam menghadapi dan mengatasi seribu satu tantangan dan kesulitan dalam konteks tugas-tugas dan tanggungjawabnya. Kepribadian tersebut terbentuk dan dibentuk oleh latihan mencintai tantangan dan kesulitan.

6). Kepribadian yang kokoh juga ditandai oleh keterlatihan menemukan dan mengutamakan pencapaian nilai-nilai prioritas yang bertujuan untuk kepentingan kesejahteraan jasmani-rohani umum, khususnya kaum miskin dalam arti luas, yang mendominasi jumlah penduduk dunia.

[Pendek kata kepribadian yang kokoh tak mengenal: “mudah putus asa”, “mudah bingung”, “mudah patah arang”, “mudah menyerah”, “mudah menunda-nunda tugas-tanggungjawab-kewajiban”, “mudah mengeluh”, “mudah rasionalisasi negatif” dan “mudah terpengaruh oleh orang lain”.]

III. Bahan Diskusi - Sharing

1. Jelaskan pernyataan Yesus dalam Mt.7:13-14 “banyak orang yang lebih suka masuk melalui pintu yang lebar dan jalan yang luas, meskipun itu menuju ke arah kebinasaan”. Mengapa?

2. Dalam konteks kekristianian “apa saja tujuan menjadi orang yang berkepribadian kokoh dan unggul”?

3.Dalam jaman sekarang temukanlah hambatan-hambatan untuk pembentukan kepribadian yang kokoh.

4. Untuk sebudi dan sehati dengan Allah bagaimana cara-cara mencapainya?

Wakeikagoo.Net



Read more